DEAL PROFIL | Tepatnya di selatan Filipina, gugusan Kepulauan Sulu menyimpan lebih dari sekadar lintasan sejarah maritim. Di antara rumah-rumah panggung dan garis pantai yang panjang, berdiri masjid-masjid tua yang menjadi penanda kehadiran Islam dan jaringan peradaban Nusantara yang pernah berdenyut kuat di kawasan ini. Ia bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simpul identitas, saksi perjalanan, dan warisan dari Kesultanan Sulu.
Masjid-masjid ini sering disebut sebagai “Masjid Nusantara”—bukan dalam arti formal atau nama resmi, melainkan sebagai istilah yang merujuk pada corak arsitektur dan ruh budaya yang terhubung dengan dunia Melayu. Bentuknya tidak menjulang seperti masjid Timur Tengah, tetapi lebih membumi: atap bertingkat, struktur kayu, dan tiang-tiang kokoh yang mengangkat bangunan dari tanah, menyesuaikan dengan kondisi pesisir dan iklim tropis. Di dalamnya, kesederhanaan justru menjadi kekuatan—ruang terbuka, ventilasi alami, dan nuansa teduh yang mengundang ketenangan.
Di Jolo, pusat lama kesultanan, beberapa masjid tua masih berdiri atau setidaknya meninggalkan jejaknya dalam ingatan kolektif masyarakat. Sebagian telah mengalami renovasi, beradaptasi dengan material modern, tetapi tetap mempertahankan elemen-elemen khas yang menjadi identitasnya. Di sinilah dahulu para sultan, ulama, dan masyarakat berkumpul—bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk bermusyawarah, belajar, dan membangun tatanan sosial.
Masjid dalam konteks Kesultanan Sulu memiliki fungsi yang melampaui ritual keagamaan. Ia menjadi pusat penyebaran Islam di kawasan ini, sekaligus ruang pendidikan yang melahirkan generasi ulama dan pemimpin lokal. Dari ruang-ruang sederhana itu, ajaran agama disampaikan, nilai-nilai sosial dibentuk, dan jaringan keilmuan dirajut hingga melintasi laut menuju wilayah lain di Asia Tenggara.
Pengaruh Nusantara terasa kuat dalam detail-detail kecil: ukiran kayu dengan motif flora, susunan ruang yang tidak kaku, serta penggunaan bahan lokal yang mencerminkan kearifan lingkungan. Semua itu menunjukkan bahwa Islam di Sulu tidak datang sebagai sesuatu yang asing, melainkan berasimilasi dengan budaya setempat dan berkembang dalam bentuk yang khas.
Namun, perjalanan waktu tidak selalu ramah. Konflik bersenjata, perubahan politik, dan arus modernisasi telah menggerus sebagian warisan ini. Beberapa masjid tua rusak atau hilang, digantikan oleh bangunan baru yang lebih permanen tetapi berbeda karakter. Meski demikian, semangat yang mereka wakili tetap bertahan—dalam praktik keagamaan, dalam tradisi, dan dalam kesadaran masyarakat akan akar sejarahnya.
Hari ini, masjid-masjid di Kepulauan Sulu mungkin tidak dikenal luas seperti bangunan bersejarah di pusat-pusat kota besar. Namun bagi masyarakat setempat, ia adalah penanda jati diri. Ia mengingatkan bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian dari jaringan besar peradaban Islam di Nusantara—sebuah dunia yang diikat oleh laut, perdagangan, dan keyakinan.
Melihat masjid-masjid itu berarti membaca sejarah yang tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan kayu, angin, dan doa. Di tengah perubahan zaman, mereka tetap berdiri—tidak selalu megah secara fisik, tetapi kuat dalam makna—sebagai warisan hidup dari sebuah kesultanan yang pernah menghubungkan iman dan peradaban di jalur laut Asia Tenggara. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G






