Prabowo Tegaskan 3 Pilar Kedaulatan Nasional: Pangan, Energi, dan AI yang Visioner

Prabowo Subianto pidato tentang ketahanan pangan energi dan AI
Presiden Prabowo menyampaikan arah strategis pembangunan nasional berbasis pangan, energi, dan AI.

DEAL FOKUS | Hasil taklimat dalam sebuah forum tertutup yang sarat makna strategis, Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan jajaran menteri Kabinet, pejabat eselon I, serta direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Taklimat itu bukan sekadar pengarahan rutin, melainkan penegasan arah besar pembangunan nasional di tengah dinamika global yang kian tidak menentu.

Dengan nada tegas namun terukur, Prabowo menggarisbawahi tiga pilar utama yang harus menjadi fondasi kebijakan negara ke depan: ketahanan pangan, kemandirian energi, dan penguasaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ketiganya, menurut Presiden, bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis demi menjaga kedaulatan bangsa.

Read More

Ia membuka arahannya dengan mengingatkan bahwa dunia sedang menghadapi ketidakpastian panjang—konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi yang bergerak lebih cepat dari kemampuan banyak negara untuk beradaptasi. Dalam situasi seperti itu, negara yang tidak memiliki fondasi kuat di sektor pangan dan energi akan mudah goyah.

Ketahanan pangan menjadi sorotan utama. Presiden menekankan bahwa Indonesia tidak boleh bergantung pada impor untuk kebutuhan dasar rakyat. Ia meminta seluruh kementerian terkait, termasuk BUMN sektor pertanian dan pangan, untuk bekerja secara terpadu, memperkuat produksi dalam negeri, serta memastikan distribusi yang adil hingga ke daerah terpencil. Baginya, pangan bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal stabilitas sosial dan politik.

Pada saat yang sama, isu energi juga mendapat perhatian serius. Prabowo menyoroti pentingnya transisi menuju energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Ia mendorong percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan, tanpa mengabaikan optimalisasi sumber daya energi yang telah dimiliki Indonesia. Dalam pandangannya, kemandirian energi akan menentukan daya tawar Indonesia di kancah global.

Namun, yang paling menarik perhatian para peserta taklimat adalah penekanan Presiden terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia menyebut AI sebagai medan persaingan baru antarnegara. Indonesia, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi pasar atau pengguna teknologi, tetapi harus menjadi pemain aktif yang mampu mengembangkan dan mengendalikan teknologi tersebut.

Dalam forum itu, Presiden meminta kementerian dan BUMN untuk mulai merancang langkah konkret dalam integrasi AI, baik dalam pelayanan publik, industri, maupun sektor strategis lainnya. Ia bahkan menyinggung pentingnya investasi pada sumber daya manusia—mencetak talenta digital yang mampu bersaing secara global.

Suasana ruangan terasa serius, namun penuh energi. Para pejabat yang hadir tampak mencatat setiap poin penting yang disampaikan. Taklimat ini bukan sekadar pengarahan normatif, melainkan sinyal kuat bahwa pemerintah akan bergerak lebih agresif dan terarah.

Di akhir arahannya, Presiden menegaskan pentingnya kerja kolektif. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan agenda besar ini tidak bisa dicapai secara sektoral. Sinergi antar kementerian, lembaga, dan BUMN menjadi kunci. “Kita tidak punya waktu untuk berjalan sendiri-sendiri,” kira-kira begitu pesan yang ingin ia tekankan.

Taklimat tersebut menjadi cerminan arah kepemimpinan Prabowo—pragmatis, strategis, dan berorientasi pada ketahanan jangka panjang. Di tengah tantangan global yang kompleks, pemerintah tampak ingin memastikan bahwa Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu melompat lebih jauh sebagai kekuatan yang diperhitungkan. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *