DEAL OLAHRAGA | Siang hari di jalan Pattani berjalan tanpa hiruk-pikuk berlebihan. Di ruas jalan utamanya, aktivitas tampak mengalir biasa saja, namun justru di situlah daya tariknya. Bagi orang Indonesia, suasana ini terasa familier—seperti sedang berada di kota kecil sendiri, hanya saja berada di negeri yang berbeda.
Di sepanjang jalan protokol, kendaraan bergerak dalam ritme yang santai. Sepeda motor menjadi pemandangan paling dominan, menyusup di antara mobil-mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Transportasi pribadi menjadi pilihan utama warga, sehingga jalanan lebih banyak diisi kendaraan milik individu dibanding angkutan umum.
Motor-motor itu tidak sekadar membawa penumpang. Sebagian membawa barang dagangan, sebagian lagi menjadi alat utama mobilitas harian. Pemandangan ini sangat mirip dengan kota-kota di Indonesia, di mana roda dua menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat.
Di sisi jalan, trotoar membentang meski tidak selalu dipenuhi pejalan kaki. Fungsinya pun beragam. Ada yang benar-benar digunakan untuk berjalan, tetapi tidak sedikit yang berubah menjadi ruang aktivitas lain. Di beberapa titik, trotoar menyatu dengan kegiatan ekonomi kecil—lapak makanan, warung sederhana, hingga pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya.
Keberadaan aktivitas ini membuat ruang jalan terasa hidup. Batas antara jalur lalu lintas dan ruang sosial menjadi tidak terlalu tegas. Jalan bukan hanya tempat kendaraan melintas, tetapi juga ruang interaksi bagi warga.
Pemandangan lain yang mencolok adalah deretan mobil yang berhenti di pinggir jalan. Kendaraan diparkir memanjang di sisi kiri dan kanan, membuat badan jalan terasa lebih sempit. Kondisi ini kadang memperlambat arus lalu lintas, terutama pada jam sibuk, namun masyarakat tampak sudah terbiasa menghadapinya.
Di beberapa persimpangan, pola berkendara terlihat lebih fleksibel. Pengendara sering mengandalkan kebiasaan dan saling pengertian, bukan semata aturan formal. Meski terlihat tidak sepenuhnya tertib, situasi ini justru menciptakan keseimbangan tersendiri dalam pergerakan lalu lintas.
Jika diamati lebih dekat, detail kehidupan sehari-hari mulai terlihat. Seorang ibu berhenti dengan motor untuk membeli makanan di pinggir jalan. Pelajar berjalan santai di trotoar. Pedagang kecil mencari tempat strategis untuk berjualan. Semua bergerak dalam ritme yang sederhana, namun penuh makna.
Sebagai kota yang tidak terlalu besar, Pattani tidak memiliki kepadatan seperti kota metropolitan. Justru karena itu, suasananya terasa lebih tenang dan manusiawi. Tidak terburu-buru, tetapi tetap hidup.
Ada kesan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, tetapi mudah dirasakan: Pattani seperti potongan kecil dari banyak kota di Indonesia. Dari cara orang berkendara hingga cara ruang publik dimanfaatkan, semuanya menghadirkan rasa kedekatan yang alami.
Di jalan-jalan utama Pattani, batas geografis seolah kehilangan maknanya. Yang tersisa adalah gambaran sederhana tentang kehidupan kota kecil—dengan dinamika, kebiasaan, dan kehangatan yang terasa begitu akrab. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G






