Bulu, Doa, dan Kurma: Kumpulan Kucing Saat Berbuka Puasa di Komunitas Imigran Kota Mekkah

Tradisi berbagi makanan dengan kucing saat berbuka puasa di Mekkah menjadi simbol kasih sayang dan keberkahan Ramadhan komunitas imigran

DEAL RILEKS | MEKKAH — Ketika senja mulai merunduk di cakrawala kota suci, riuh rendah suasana Ramadhan perlahan memberi ruang bagi hening yang manis. Arah kiblat tetap memanggil jutaan jiwa menuju adzan Maghrib, tapi di lorong-lorong sempit perumahan imigran yang jauh dari gemerlap pusat kota, hadir sebuah pemandangan lain: malam berbuka bukan hanya milik manusia — tetapi juga sekumpulan kucing yang berkumpul di setiap komunitas tempat para perantau menetap sementara menunaikan umroh.

Di gang-gang sempit itu, di bawah lampu jalan yang temaram, ibu-ibu imigran menyiapkan piring kecil berisi kurma, nasi, dan air putih. Tak lama suara azan Maghrib menggema, lalu satu per satu kucing-kucing yang selama sore berkeliaran di sekitar rumah muncul. Bulu mereka yang beragam — hitam, putih, belang kuning — tampak kontras dengan lantai semen yang mulai disiram doa.

Read More

Siti Nurhayati, perempuan imigran asal Indonesia, menyeka keringat di dahinya sambil meletakkan sebutir kurma di hadapan kucing belang. “Ramadhan di tanah suci ini bukan hanya tentang kami sebagai manusia,” ucapnya lembut, “tetapi juga tentang makhluk lain yang merasakan lapar dan haus seperti kami. Membagi sedikit rezeki saat berbuka terasa seperti doa yang berlipat.”

Kucing-kucing itu tak terburu-buru. Mereka datang dengan langkah anggun, seperti memahami ritme doa yang baru saja usai disusun. Sebagian duduk rapi menanti satu per satu makanan dihidangkan; sebagian lagi menyapa riawan lain yang sudah lebih dulu hadir. Kadang seekor mengeong pelan, seakan turut melantunkan syukur yang tak terucap.

Komunitas imigran lain pun berbagi cerita serupa. Di lorong apartemen, di dekat tempat parkir, di bawah rindangnya pohon kecil yang tumbuh di pojok gang — hampir di mana pun, para kucing itu menjadi bagian dari momen berbuka. Anak-anak imigran terkadang ikut duduk di lantai teras sambil menyodorkan semangkuk air untuk minum, tertawa kecil saat seekor kucing menjilati jari mereka.

Bagi banyak warga, tradisi memberi makan kucing di waktu berbuka telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadhan mereka di Mekkah. Ia bukan sekadar perbuatan belas kasih, tetapi sebuah wujud syukur atas berkah yang jatuh di tanah suci. Kucing-kucing itu bukan lahir dari kemewahan; mereka adalah saksi kecil yang hadir dalam detik-detik kelapangan setelah seharian menahan lapar dan haus bersama.

Kala lampu semakin redup dan suara adzan Isya mulai mengisi udara malam, kucing-kucing itu kembali menghilang ke sudut-sudut gang, kenyang dan tenteram. Komunitas imigran menata kembali piring dan gelas mereka, kemudian bergandengan tangan menuju masjid terdekat untuk Tarawih. Di setiap langkah itu, rasa kemanusiaan dan kasih sayang tumbuh beriringan — seumpama benang halus yang menjahit hewan dan manusia dalam satu kain kebersamaan.

Begitulah Ramadhan di komunitas imigran kota Mekkah: tak hanya tentang doa dan ibadah, tetapi juga tentang cara mereka membagi keberkahan dengan sesama makhluk hidup. Di bawah langit yang sama, sekumpulan kucing berbuka puasa bersama menjadi simbol kecil dari rahmat yang tak pernah habis di bulan suci ini. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts