DEAL PARALEGAL | Lebong Tandai, sebuah desa di pedalaman Bengkulu Selatan, berdiri dalam kesunyian yang panjang. Dikelilingi Bukit Barisan yang menjulang seperti tembok alam, desa ini seolah terpisah dari waktu—dan dari janji keadilan yang dulu pernah singgah. Jalan menuju ke sana terputus, bukan hanya oleh medan yang terjal, tetapi oleh perhatian negara yang perlahan menghilang.
Padahal, dari tanah inilah emas pernah diangkat untuk sejarah. Pada masa Presiden Soekarno, Lebong Tandai menyumbangkan emasnya untuk pembangunan Monumen Nasional di Jakarta—simbol kebanggaan republik, tugu yang kini berdiri megah di jantung ibu kota. Emas dari perut bumi Lebong Tandai ikut membentuk monumen persatuan Indonesia. Namun ironi sejarah tak bisa dihindari: desa yang menyumbang kemilau bagi negara, kini hidup dalam gelap keterbatasan.
Hari ini, Lebong Tandai bukan kisah tentang kejayaan, melainkan tentang bertahan. Masyarakatnya hidup dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Akses pangan terbatas, harga kebutuhan pokok melambung karena sulitnya jalur distribusi, dan penghasilan warga tak sebanding dengan kebutuhan hidup. “Kalau cuaca buruk, kami bisa kehabisan beras,” ujar seorang warga dengan suara datar—seolah kekurangan telah menjadi rutinitas yang diterima tanpa banyak protes.
Jalan menuju desa ini bukan sekadar rusak, tetapi nyaris lenyap. Untuk mencapai Lebong Tandai, warga harus menempuh jalur ekstrem melintasi hutan, bukit, dan sungai. Dalam kondisi darurat—sakit, melahirkan, atau kecelakaan—waktu menjadi musuh paling kejam. Negara terasa begitu jauh, padahal peta mengatakan desa ini masih bagian dari republik yang sama.
Keadilan, di sini, terasa timpang. Monumen Nasional berdiri kokoh dengan lapisan emas yang berkilau, sementara anak-anak Lebong Tandai tumbuh dengan fasilitas pendidikan terbatas, layanan kesehatan minim, dan masa depan yang samar. Mereka belajar tentang Indonesia dari buku, tetapi jarang merasakan kehadiran negara dalam kehidupan sehari-hari.
Lebong Tandai adalah cermin retak pembangunan. Ia mengajukan pertanyaan sunyi namun tajam: untuk siapa kekayaan alam negeri ini dikelola? Jika emas desa ini bisa sampai ke Jakarta, mengapa jalan dan kesejahteraan tak pernah sampai kembali ke Lebong Tandai?
Di tengah Bukit Barisan, desa ini tetap bertahan dengan segala keterbatasannya. Warganya tidak menuntut kemewahan—hanya akses yang layak, pangan yang cukup, dan keadilan yang tidak berhenti di ibu kota. Lebong Tandai bukan sekadar desa tertinggal; ia adalah saksi bisu bahwa keadilan sosial belum sepenuhnya merata.
Dan selama desa emas ini terus ditinggalkan, kemilau Monas akan selalu menyimpan bayangan: tentang sebuah desa yang pernah memberi segalanya, namun belum menerima kembali haknya sebagai bagian utuh dari Indonesia. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








