Ketika Perempuan Aceh Menjadi Penopang di Tengah Banjir dan Longsor

Ketika Perempuan Aceh Menjadi Penopang di Tengah Banjir dan Longsor. Dok : Deal Channel

DEAL GENDER – ACEH | Di antara deras air banjir dan runtuhan tanah yang memutus jalan serta harapan, perempuan-perempuan Aceh berdiri di garis depan kemanusiaan. Mereka hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai penggerak—menyelamatkan korban, membantu aparat dan pemerintah setempat, serta membangun kembali kehidupan yang sempat runtuh.

Sejak banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh, peran perempuan terlihat nyata di berbagai titik terdampak. Bersama aparat TNI-Polri, BPBD, dan relawan, perempuan terlibat langsung dalam proses evakuasi korban, menyiapkan dapur umum, hingga memastikan anak-anak dan lansia mendapatkan perlindungan yang layak. Di tengah situasi darurat, ketenangan dan ketangguhan mereka menjadi energi tambahan bagi upaya penyelamatan.

Read More

Secara faktual, kontribusi perempuan tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Mereka juga aktif mendukung pemerintah daerah dalam pendataan korban, distribusi logistik, serta pengelolaan posko pengungsian. Perempuan-perempuan desa, kader kesehatan, hingga aktivis kemanusiaan bekerja bahu-membahu memastikan bantuan tepat sasaran, sekaligus menjaga martabat pengungsi di tengah keterbatasan.

Di lapangan, peran perempuan sering kali bersentuhan langsung dengan aspek paling mendasar dari pemulihan: kehidupan sehari-hari. Mereka memasak untuk ratusan orang di dapur umum, membersihkan lumpur dari rumah-rumah yang terendam, serta menjadi pendengar setia bagi korban yang kehilangan keluarga dan harta benda. Di sela-sela pekerjaan fisik, perempuan juga menghadirkan ketenangan—sebuah kekuatan yang tak tercatat dalam laporan resmi, tetapi terasa di setiap tenda pengungsian.

Perempuan Aceh juga turut terlibat dalam proses pemulihan infrastruktur. Bersama aparat desa dan relawan, mereka membantu membuka akses jalan darurat, membersihkan fasilitas umum, dan menata kembali ruang-ruang sosial yang rusak akibat banjir dan longsor. Kerja ini mungkin sunyi, namun menjadi fondasi penting bagi roda kehidupan agar kembali berputar.

Kolaborasi antara perempuan, pemerintah, dan aparat setempat memperlihatkan wajah gotong royong yang sesungguhnya. Dalam kondisi serba terbatas, koordinasi menjadi kunci. Perempuan berperan sebagai penghubung antara warga dan pengambil kebijakan di tingkat lokal, menyampaikan kebutuhan lapangan secara langsung dan memastikan suara korban tidak terpinggirkan.

Saat malam tiba, ketika hujan masih kerap turun dan suara alam mengingatkan pada trauma, perempuan tetap berjaga. Di posko-posko pengungsian, mereka memastikan anak-anak tertidur dengan rasa aman, sementara dapur umum tetap menyala. Di sanalah terlihat bahwa peran perempuan dalam bencana bukan sekadar pelengkap, melainkan penopang utama ketahanan sosial.

Banjir dan longsor memang meninggalkan luka, tetapi juga menyingkap kekuatan kolektif. Di Aceh, perempuan telah menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu hadir dalam seragam atau struktur formal. Ia tumbuh dari kepedulian, kerja nyata, dan keberanian untuk tetap berdiri di tengah krisis. Dari tangan-tangan perempuan itulah, Aceh perlahan bangkit—menata ulang kehidupan dengan harapan yang tak hanyut bersama banjir. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts