DEAL GENDER | Dua pekan setelah banjir bandang dan tanah longsor menerjang Kota Sibolga, jejak kehancuran masih terlihat jelas di hampir seluruh titik terdampak. Rumah-rumah warga yang sebelumnya berdiri kokoh kini berubah menjadi tumpukan puing, rangka kayu yang patah, dinding retak, serta perabotan yang terendam lumpur setinggi lutut. Bencana ini menorehkan luka tidak hanya pada fisik bangunan, tetapi juga pada stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Di Kelurahan Aek Habil, salah satu kawasan terparah, ratusan rumah mengalami kerusakan berat hingga tidak bisa lagi dihuni. Beberapa bangunan bahkan hanyut terbawa derasnya arus air ketika banjir datang secara tiba-tiba pada tengah malam. Warga yang sempat menyelamatkan diri dengan pakaian seadanya kini hanya bisa memandangi sisa-sisa rumah yang tak lagi berbentuk. Satu per satu, mereka mulai mengorek material yang masih bisa diselamatkan—entah itu lembaran seng, kayu yang masih utuh, atau pakaian yang terkubur lumpur.
Sementara itu, di daerah berbukit seperti Kelurahan Simare-mare, longsor besar memutus rumah dari pondasinya. Struktur dinding yang rapuh tidak mampu menahan tekanan tanah yang jatuh dari tebing-tebing curam. Banyak keluarga kini tinggal di tenda-tenda darurat yang didirikan di halaman masjid, sekolah, dan lapangan terbuka. Cuaca dingin malam hari dan hujan yang masih turun sesekali membuat kondisi mereka semakin rentan.
Kerusakan rumah warga bukan hanya menghilangkan tempat berlindung, tetapi juga memutus banyak sumber penghidupan. Banyak rumah berfungsi sebagai warung, bengkel kecil, usaha makanan rumahan, hingga kios sembako. Ketika bangunan itu hancur, sumber pendapatan keluarga pun hilang. Di beberapa titik, alat-alat kerja seperti kompresor, kulkas, mesin jahit, dan etalase usaha rusak total. Pemerintah daerah mencatat bahwa kerugian materi akibat kerusakan rumah dan usaha kecil mencapai angka yang signifikan.
Bencana ini juga memperlihatkan lemahnya daya tahan bangunan di beberapa kawasan padat penduduk. Banyak rumah dibangun menempel pada lereng bukit tanpa sistem drainase memadai dan tanpa pondasi kuat. Curah hujan ekstrem memicu aliran air yang menggerus pondasi dan membuat rumah-rumah tersebut runtuh dalam hitungan menit. Di sisi lain, banjir besar memperlihatkan bahwa saluran irigasi dan drainase kota tidak mampu menampung volume air yang meningkat drastis akibat perubahan tata guna lahan.
Sejumlah warga mengaku masih trauma. Malam hari terasa mencekam ketika hujan kembali turun. Banyak dari mereka tidur sambil berjaga, takut bencana susulan kembali menghantam. Layanan psikososial dari relawan otonom, organisasi keagamaan, dan tenaga profesional sangat dibutuhkan mengingat banyak anak-anak yang mulai menunjukkan tanda ketakutan berlebihan—menangis ketika mendengar suara hujan lebat atau takut tidur jauh dari orang tua.
Pemerintah Kota Sibolga bersama BNPB dan Dinas Sosial telah melakukan pendataan rumah rusak ringan, sedang, hingga rusak total. Rumah-rumah yang berada di zona merah dinyatakan tidak boleh lagi dihuni karena risiko longsor berulang sangat tinggi. Pemerintah berencana menyiapkan program relokasi ke wilayah yang lebih aman, namun proses ini memerlukan waktu karena harus memastikan ketersediaan lahan, infrastruktur dasar, dan fasilitas umum.
Di sisi lain, banyak warga berharap renovasi dan pembangunan kembali rumah dilakukan dengan standar yang lebih aman. Mereka meminta pemerintah memastikan adanya penguatan struktur, peningkatan drainase, serta larangan pembangunan baru di area berbahaya. Para ahli geologi dan tata ruang sudah turun langsung memberikan rekomendasi teknis agar pemukiman masa depan lebih tahan terhadap bencana.
Banjir dan longsor di Sibolga menjadi alarm keras tentang perlunya tata kelola kawasan yang lebih baik. Bencana ini tidak hanya menghancurkan ratusan rumah, tetapi juga mengungkap kesenjangan dalam aspek mitigasi dan kesiapan infrastruktur. Kini, jalan pemulihan masih panjang, tetapi harapan tetap ada selama masyarakat, pemerintah, dan relawan bekerja bersama memperbaiki kerusakan—baik yang terlihat di permukaan, maupun luka-luka yang dirasakan warga jauh di dalam hati mereka. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








