DEAL GENDER | Jakarta, Oktober 2025 — Di antara gemerlap lampu panggung dan sorotan kamera pada Forbes Global CEO Conference 2025 di Jakarta, ada satu hal yang mencuri perhatian di luar angka ekonomi dan strategi bisnis: kehadiran dan kiprah para perempuan pemimpin dunia. Mereka bukan sekadar tamu, melainkan pembicara, pengambil keputusan, dan inovator di berbagai sektor—dari teknologi, keuangan, sosial, hingga energi hijau.
Forum internasional bergengsi yang digelar di The St. Regis Jakarta ini mempertemukan ratusan CEO dari lebih 40 negara. Namun tahun ini, fokus yang tak kalah kuat muncul dari sesi bertajuk “Women Shaping the Future of Leadership” — sesi yang mengukuhkan peran perempuan sebagai pilar baru ekonomi global.
Contents
- 1 “We are not just leading companies — we are leading mindsets.”
- 2 Konteks: Representasi perempuan di level CEO dunia masih timpang
- 3 Sisi manusiawi dari ruang CEO
- 4 Presiden Prabowo dan pesan kesetaraan
- 5 Box Analisis: Perempuan, Inovasi, dan Daya Saing Ekonomi
- 6 Dampak nyata: Jejak yang meninggalkan perubahan
“We are not just leading companies — we are leading mindsets.”
Pernyataan itu datang dari Nguyen Thi Thu Ha, CEO muda asal Vietnam yang dikenal sebagai penggerak ekonomi digital di Asia Tenggara. Dalam diskusi panel yang penuh energi, ia menegaskan bahwa kepemimpinan perempuan hari ini bukan soal jumlah posisi, tapi tentang cara memimpin: “Kami membawa empati, kolaborasi, dan inovasi sosial ke dalam ruang yang dulu hanya diukur lewat laba.”
Nada serupa terdengar dari Shinta Widjaja Kamdani, CEO Sintesa Group, yang juga hadir mewakili Indonesia. Dalam paparannya, ia menyoroti pentingnya keseimbangan antara visi ekonomi dan nilai keberlanjutan:
“Kepemimpinan perempuan lebih berakar pada empati dan tanggung jawab sosial. Dalam dunia bisnis global hari ini, nilai-nilai itu bukan kelembutan — tapi kekuatan strategis.”
Konteks: Representasi perempuan di level CEO dunia masih timpang
Menurut data Forbes dan laporan McKinsey Global Institute 2025, perempuan masih hanya menempati sekitar 10% posisi CEO global, meski di Asia angkanya sedikit lebih tinggi — mencapai 13%. Namun, kehadiran mereka di forum Forbes kali ini menjadi simbol dari tren yang mulai berubah.
Di Indonesia sendiri, kehadiran perempuan dalam bisnis besar makin menonjol. Selain Shinta Kamdani, sejumlah nama lain seperti Nicke Widyawati (Direktur Utama Pertamina), Catherine Hindra Sutjahyo (Co-Founder Gojek dan Petronas Board Member), serta Kartika Wirjoatmodjo (Wakil Menteri BUMN) disebut dalam diskusi sebagai contoh model kepemimpinan perempuan yang menginspirasi kawasan.
Sementara di level global, tokoh seperti Kristalina Georgieva (IMF), Jane Fraser (Citigroup), dan Gail Kelly (mantan CEO Westpac Australia) menjadi panutan baru tentang kepemimpinan adaptif pasca-pandemi dan era AI.
Sisi manusiawi dari ruang CEO
Dalam forum yang biasanya didominasi data dan analisis ekonomi, sesi perempuan justru menghidupkan sisi manusia dari bisnis. Diskusi berkisar pada “kepemimpinan berbasis nilai”, yakni gaya kepemimpinan yang tidak hanya mengejar profit tetapi juga dampak sosial.
Marina Cheng, Managing Partner di BlueWave Capital, berbagi kisah bagaimana perusahaan investasinya mulai menilai “impact metrics” bukan sekadar ROI. “Kami tidak hanya mengukur pertumbuhan keuangan, tetapi juga kontribusi terhadap kesetaraan, lingkungan, dan kesejahteraan,” ujarnya.
Sementara Maya Datar, CEO startup agritech asal India, menekankan pentingnya pendidikan digital bagi perempuan di pedesaan. “Perempuan adalah tulang punggung ekonomi informal di Asia. Memberdayakan mereka lewat teknologi berarti memperkuat ketahanan ekonomi nasional.”
Presiden Prabowo dan pesan kesetaraan
Menariknya, dalam pidato pembukaan Forbes Global CEO Conference, Presiden Prabowo Subianto juga menyinggung peran perempuan sebagai bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menyebut program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dan pemberdayaan UMKM perempuan sebagai contoh nyata bagaimana partisipasi perempuan bukan sekadar wacana sosial, tetapi strategi ekonomi riil.
“Pemberdayaan perempuan berarti memperkuat fondasi bangsa. Mereka bukan hanya pilar keluarga, tetapi juga penggerak ekonomi mikro dan penjaga etika sosial,” ujar Prabowo, disambut tepuk tangan peserta konferensi.
Pernyataan itu menjadi semacam jembatan antara kebijakan negara dan semangat inklusif yang digaungkan para CEO perempuan di forum internasional tersebut.
Box Analisis: Perempuan, Inovasi, dan Daya Saing Ekonomi
| Aspek | Tantangan | Potensi dan Dampak |
| Kepemimpinan Korporasi | Masih sedikit perempuan di posisi strategis dan dewan direksi. | Studi Deloitte 2025 menunjukkan perusahaan dengan ≥30% pimpinan perempuan memiliki margin laba bersih 15% lebih tinggi. |
| Akses terhadap Modal | Startup perempuan masih hanya menerima <5% dari total pendanaan ventura global. | Platform crowdfunding dan program pembiayaan mikro digital membuka jalur baru bagi wirausaha perempuan. |
| Keterampilan Digital & AI | Kesenjangan keterampilan digital masih besar di negara berkembang. | Pelatihan berbasis online dan mentorship lintas negara menyiapkan gelombang baru “female tech leaders.” |
| Keseimbangan Kerja–Keluarga | Beban ganda kerja domestik menahan mobilitas perempuan profesional. | Model kerja hybrid dan kebijakan cuti keluarga inklusif mulai diadopsi di banyak perusahaan besar. |
Dampak nyata: Jejak yang meninggalkan perubahan
Lebih dari sekadar simbol kehadiran, banyak dari perempuan yang tampil di Forbes CEO Conference 2025 adalah decision makers yang memengaruhi arah kebijakan global. Dari inovasi energi terbarukan, pendanaan inklusif, hingga investasi sosial, mereka membuktikan bahwa keberhasilan bisnis tidak harus mengorbankan keadilan dan kemanusiaan.
Sesi diskusi yang dihadiri oleh puluhan jurnalis dan analis global menggambarkan bahwa masa depan bisnis akan semakin ditentukan oleh keragaman dan nilai-nilai keberlanjutan, bukan hanya pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
“Leadership is no longer about power — it’s about purpose,” ujar Gita Wirjawan, mantan Menteri Perdagangan RI yang hadir sebagai moderator panel. “Dan perempuan hari ini membawa purpose itu ke meja global.”
Konferensi Forbes Global CEO 2025 meninggalkan pesan penting: ekonomi masa depan tidak bisa lagi berjalan tanpa kesetaraan gender yang sejati. Di balik jargon pertumbuhan dan inovasi, ada narasi baru yang mulai mengemuka — bahwa kekuatan perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari transformasi bisnis global yang beretika, berkelanjutan, dan berempati.
Jika di masa lalu perempuan diperjuangkan untuk “diberi ruang,” maka kini mereka mengisi dan mengubah ruang itu dengan visi baru. Dari Jakarta, pesan ini menggema ke seluruh dunia: dunia bisnis yang adil dan berkelanjutan akan lahir bila perempuan dan laki-laki memimpin bersama — bukan dalam kompetisi, tapi dalam kolaborasi. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








