Dari Lahan Tandus ke Kampung Haji: Jejak Kehadiran Indonesia di Kota Makkah

DEAL PROFIL | Makkah — Di sebuah sudut kota Makkah, jauh sebelum gedung-gedung hotel menjulang dan pusat perbelanjaan modern menghiasi kawasan Masjidil Haram, terdapat sebuah lahan tandus yang dahulu menjadi saksi bisu perjalanan panjang para jamaah haji asal Nusantara. Di tanah berbatu dan gersang itulah, cikal bakal Kampung Haji Indonesia berdiri, meninggalkan jejak historis yang hingga kini masih bergaung dalam ingatan kolektif.

Lahan tandus yang menjelma rumah sementara

Bagi jamaah haji Indonesia pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Makkah bukan hanya destinasi ibadah, tetapi juga tempat bermukim sementara. Karena perjalanan laut memakan waktu berbulan-bulan, banyak jamaah memilih tinggal lebih lama di Tanah Suci. Mereka mendirikan rumah-rumah sederhana di lahan tandus, membangun surau kecil, dan membuka warung yang menjual makanan khas Nusantara: nasi, sayur berkuah, hingga kue tradisional.

Read More

“Dulu orang-orang kita kalau datang ke sini, tidak ada hotel. Mereka tinggal di rumah-rumah kayu yang dibangun di pinggir gurun,” tutur Haji Abdullah, keturunan Jawa yang sudah menetap di Makkah sejak kakek buyutnya berhaji pada awal 1900-an. “Lahan yang sekarang padat bangunan, dulu hanya hamparan batu dan pasir. Tapi bagi mereka, itulah kampung halaman kedua.”

Dinamika sosial dan solidaritas jamaah Nusantara

Kampung haji Indonesia di Makkah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga pusat komunitas. Di sana jamaah saling membantu: yang lebih dulu tiba memberi petunjuk arah, menolong mengurus dokumen, bahkan menampung sesama yang kekurangan biaya. Lahan tandus itu menjelma ruang solidaritas, di mana ikatan kebangsaan dan kesamaan bahasa menjadi pegangan di negeri asing.

Di sela-sela waktu ibadah, para jamaah juga mengaji, berdiskusi agama, hingga belajar bahasa Arab. Sebagian ada yang menikah dengan penduduk lokal, membentuk generasi baru keturunan Indonesia di Makkah. Jejak mereka masih bisa ditemui di lingkungan seperti Jabal Hindi hingga Jarwal, yang oleh banyak orang masih diingat sebagai “kampung orang Jawa.”

Antara keterbatasan dan semangat bertahan

Hidup di tanah tandus penuh tantangan. Suhu ekstrem, akses air terbatas, dan kondisi ekonomi yang serba sulit kerap menghimpit jamaah. Namun, ketekunan membuat mereka mampu bertahan. Banyak yang membuka usaha kecil: berdagang kain, menjual makanan, atau menjadi penyalur jasa bagi jamaah haji lain yang datang dari berbagai penjuru dunia.

“Kalau sekarang jamaah tinggal di hotel berbintang, dulu orang kita hidup sederhana. Satu kamar bisa untuk banyak orang, tidur di lantai beralaskan tikar,” kenang Ahmad Fauzi, peneliti sejarah haji Indonesia. “Namun dari kesederhanaan itu lahir kekuatan: rasa kebersamaan dan keyakinan bahwa mereka sedang menunaikan panggilan suci.”

Transformasi ruang dan hilangnya jejak

Seiring modernisasi Makkah, kawasan lahan tandus itu perlahan hilang dari pandangan. Pembangunan hotel, pusat perbelanjaan, dan fasilitas haji yang serba modern menggantikan rumah-rumah kayu dan gubuk yang dulu berdiri. Kini, jejak fisik Kampung Haji Indonesia nyaris tak terlihat, meski memorinya tetap hidup dalam kisah lisan para keturunan jamaah Nusantara.

Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi kini mengatur tempat tinggal jamaah secara terpusat melalui hotel dan pemondokan resmi. Hal ini membuat jamaah haji Indonesia menikmati kenyamanan lebih baik, tetapi sekaligus menandai berakhirnya era kampung haji tradisional di lahan tandus.

Warisan tak ternilai

Bagi banyak orang Indonesia, mengenang kampung haji di Makkah berarti mengenang perjuangan leluhur: bagaimana mereka menunaikan rukun Islam kelima dengan segala keterbatasan, lalu membangun komunitas yang meninggalkan jejak kultural di Tanah Suci.

“Kampung haji itu simbol keteguhan,” kata Nurhayati, akademisi asal Medan yang meneliti diaspora haji. “Dari lahan tandus, lahir sebuah identitas kolektif yang menyatukan orang Indonesia jauh dari rumah. Jejak itu, meski tak lagi terlihat, tetap hidup dalam ingatan sejarah.”

Kini, ketika jamaah Indonesia berangkat dengan pesawat modern, menginap di hotel ber-AC, dan difasilitasi pemerintah, kisah tentang kampung haji di lahan tandus Makkah menjadi pengingat. Bahwa perjalanan haji tidak hanya soal kemudahan masa kini, tetapi juga jejak panjang perjuangan mereka yang pernah menjadikan tanah gersang sebagai rumah kedua di dekat Ka’bah. (ath)

Related posts