DEAL OLAHRAGA | Menyusuri pusat kota Makkah dengan berjalan kaki bukan sekadar perjalanan fisik dari satu titik ke titik lain. Setiap langkah di kota suci ini seakan menautkan unsur ibadah, sejarah, dan rutinitas harian: jamaah yang bergerak perlahan menuju Masjidil Haram, warga lokal yang menyiapkan dagangan, hingga pekerja yang mengangkut barang kebutuhan. Semuanya berpadu dalam irama yang tampak acak, namun sesungguhnya teratur. Bagi siapa pun yang melangkah di sekitar kompleks suci ini, pengalaman tersebut menyerupai meditasi: penuh perenungan, terkadang menantang, namun senantiasa bermakna.
Waktu terbaik untuk merasakan atmosfer ini adalah saat fajar. Sebelum matahari menanjak, trotoar di sepanjang jalur hotel ke Masjidil Haram diwarnai langkah-langkah yang lebih tenang: keluarga berjalan bersama, jamaah yang memilih berolahraga ringan sebelum salat, dan para pekerja yang menyiapkan kebutuhan pagi. Jalur modern seperti jembatan pejalan kaki yang menghubungkan kawasan hotel ke halaman masjid membuat perjalanan semakin singkat, memberi kenyamanan baru terutama di kawasan Jabal Omar dan sekitarnya.
Meski begitu, berjalan di Makkah menuntut stamina. Pada musim haji atau periode ibadah padat, jamaah bisa menempuh jarak 5 hingga 15 kilometer per hari. Aktivitas seperti tawaf berulang, perjalanan ke lokasi manasik, atau bolak-balik hotel ke masjid membuat langkah-langkah itu terus bertambah. Karena itu, banyak ahli menyarankan agar calon jamaah membiasakan diri berjalan jauh sebelum berangkat agar tubuh lebih siap menghadapi ritme kota suci.
Kota Makkah sendiri terus memperbaiki infrastruktur bagi pejalan kaki. Jalur yang lebar dan teduh, terowongan khusus, hingga ruang istirahat dibangun untuk memisahkan arus manusia dari kendaraan sekaligus memberi kenyamanan saat musim puncak. Semua itu merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan dan kelancaran jutaan orang yang setiap tahun memadati kawasan suci.
Namun, ada etika tak tertulis yang perlu diperhatikan. Kesopanan, suara yang terjaga, serta penghormatan terhadap ruang ibadah menjadi hal utama. Pengunjung diimbau mengenakan pakaian sopan sesuai aturan, menghindari penggunaan parfum di area suci, dan menunjukkan kesabaran saat berdesakan dengan jamaah lain. Sikap seperti ini menjadikan pengalaman berjalan tidak sekadar nyaman, tetapi juga penuh kehormatan.
Untuk memaksimalkan pengalaman, ada sejumlah tips praktis:
- Latih kebugaran dengan berjalan rutin 4–6 minggu sebelum keberangkatan.
- Pilih waktu pagi atau malam hari untuk menghindari teriknya matahari.
- Gunakan alas kaki yang nyaman agar terhindar dari lecet.
- Selalu membawa air minum dan perlindungan dari panas.
- Patuhi rambu, arahan petugas, dan jaga sikap hormat terhadap sekitar.
Berjalan di Makkah juga memperlihatkan sisi kemanusiaan yang sederhana namun indah: sapaan ramah pedagang kopi, keceriaan anak-anak yang berlarian, atau jamaah yang duduk tenang membaca Al-Qur’an di bawah bayangan. Di sela hiruk pikuk doa dan kesibukan, momen-momen kecil itu menghadirkan rasa hangat yang sulit dilupakan.
Tetap saja, pejalan kaki perlu waspada. Cuaca ekstrem, padatnya kerumunan, dan kelelahan bisa menjadi tantangan serius. Karena itu, kesiapan fisik, kepatuhan pada etika lokal, serta pemanfaatan fasilitas kota menjadi kunci agar perjalanan kaki di Makkah tak hanya selamat, tetapi juga memberi pengalaman spiritual mendalam.
Akhirnya, berjalan di Makkah adalah pertemuan antara tubuh dan jiwa. Di jalan-jalan yang mengitari Ka’bah, setiap langkah kecil terasa seperti doa yang tertapaki, menghubungkan rutinitas manusia dengan irama yang lebih agung. Bagi siapa pun yang berkesempatan melangkah di kota ini, persiapkanlah kaki dan hati—karena setiap langkah adalah bagian dari perjalanan rohani yang akan terus terpatri dalam ingatan. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








