Pelatihan Paralegal Online di Hari Kemerdekaan: Merdeka secara Hukum, Merdeka secara Pengetahuan

Di balik layar komputer, ratusan warga dari berbagai pelosok negeri mengikuti pelatihan paralegal onlin
Di balik layar komputer, ratusan warga dari berbagai pelosok negeri mengikuti pelatihan paralegal onlin
DEAL KURSUS | Tanggal 17 Agustus bukan hanya tentang upacara, panjat pinang, dan parade kemerdekaan. Di balik layar laptop dan ponsel, ratusan warga dari pelosok negeri mengikuti pelatihan paralegal online, merayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih substansial—membangun kesadaran hukum dan keberanian untuk membela diri secara legal.

Kelas Virtual, Aspirasi Nyata

Pelatihan bertajuk “Merdeka Hukum untuk Semua” ini dilaksanakan oleh jaringan LBH, komunitas hukum rakyat, serta lembaga pemberdayaan masyarakat. Kelas berlangsung via Zoom, Google Meet, serta disiarkan ulang di YouTube.

Read More

Materi pelatihan:

  • Dasar-dasar hukum pidana dan perdata
  • Hukum agraria, tenaga kerja, dan kekerasan berbasis gender
  • Praktik advokasi masyarakat
  • Etika dan tanggung jawab paralegal

Peserta berasal dari berbagai kalangan—petani, guru honorer, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga—termasuk dari daerah terpencil seperti Mentawai, Nias, dan perbatasan Papua.

Suara Rakyat: “Kami Ingin Merdeka dari Ketakutan”

Novianti dari Sumba Timur berkata, “Kami sering ditakut-takuti dengan istilah hukum yang tak kami pahami. Hari ini, saya ingin merdeka dari ketakutan itu.”

Aris dari Banten menambahkan, “Saya ingin jadi jembatan hukum bagi warga desa. Mungkin bukan pengacara, tapi paralegal.”

Pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu, tapi juga ruang empati dan solidaritas hukum warga.

Kolaborasi yang Menguatkan Akar Demokrasi

Program ini didukung oleh:

  • LBH se-Indonesia
  • Komnas HAM dan Komnas Perempuan
  • Kemenkumham
  • Kampus hukum dan klinik hukum

Direktur LBH Medan menyatakan, “Paralegal bukan pengganti pengacara, tapi ujung tombak hukum rakyat. Mereka tahu bahasa warga, tahu masalah setempat, dan itu yang negara butuhkan.”

Ikrar Paralegal Merdeka: Bukan Pengacara, Tapi Pembela Rakyat

“Kami bukan pengacara, bukan jaksa, bukan hakim. Tapi kami akan berdiri di antara rakyat dan ketidakadilan. Kami tidak takut melawan penindasan dengan pengetahuan dan solidaritas.”

Dengan ikrar itu, peserta menutup pelatihan sebagai simbol kesiapan membela hak warga, bukan dengan amarah, tapi dengan hukum.

Tantangan dan Harapan

  • Koneksi internet yang masih lemah di banyak wilayah
  • Minimnya pengakuan resmi terhadap paralegal oleh pemda
  • Terbatasnya dukungan anggaran dan fasilitas

Meski begitu, dorongan masyarakat sipil dan kampus hukum menjadi penggerak utama. Targetnya: tahun 2026, minimal satu paralegal aktif di setiap desa di Indonesia.

Penutup: Merdeka Itu Bisa Membela Tanpa Harus Dibayar

Di era digital, kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajah, tapi juga dari kebodohan hukum dan ketakutan terhadap ketidakadilan. Dan dari balik layar komputer, perjuangan itu telah dimulai.

“Dengan hukum kita tegak, dengan rakyat kita kuat. Dirgahayu Republik Indonesia!”

Related posts