Perempuan Tangguh dari Lereng Yunnan: Penjaga Hijau dan Harapan Pertanian Tiongkok

DEAL GENDER | Ketika dunia memandang Tiongkok sebagai raksasa industri dan teknologi, sebuah kenyataan lain tumbuh perlahan namun pasti di sudut-sudut pedesaannya. Salah satunya adalah geliat sektor pertanian modern di provinsi-provinsi selatan seperti Yunnan dan Guangxi, tempat alpukat kini menjadi komoditas baru yang menjanjikan.Di antara para petani yang berkutat dengan tanah dan tanaman, sosok perempuan petani muncul sebagai wajah baru pertanian Tiongkok—penuh semangat, pekerja keras, dan membawa napas keberlanjutan pertanian lokal.

Kisah dari Desa di Lereng Yunnan

Di kaki Pegunungan Gaoligong, Provinsi Yunnan, kami bertemu dengan Zhou Lifen, seorang perempuan petani berusia 43 tahun yang kini menjadi tokoh inspiratif di komunitasnya. Lima tahun lalu, Zhou beralih dari menanam teh dan sayur musiman menjadi petani alpukat setelah pemerintah memperkenalkan program diversifikasi komoditas pertanian.

Read More

“Awalnya saya tidak yakin. Tapi setelah belajar dari pelatihan, saya mulai percaya bahwa alpukat punya masa depan,”

tutur Zhou sambil menunjukkan pohon-pohon alpukat yang mulai berbuah.

Zhou kini memimpin kelompok tani perempuan yang terdiri dari 18 ibu rumah tangga. Mereka tak hanya bertani, tapi juga mengelola koperasi kecil yang memasarkan hasil panen ke pasar kota Kunming dan menjajaki penjualan daring melalui Pinduoduo dan Taobao.

Peran Perempuan dalam Revolusi Hijau Tiongkok

Transformasi Zhou mencerminkan kebijakan agraria Tiongkok yang mendorong partisipasi perempuan dalam pertanian berkelanjutan. Pelatihan, akses teknologi pertanian, dan manajemen mikro diberikan pemerintah daerah bersama lembaga riset dan universitas.

Menurut data Kementerian Pertanian Tiongkok, lebih dari 50% tenaga kerja di sektor hortikultura di selatan Tiongkok adalah perempuan. Di sektor alpukat, perempuan bahkan menjadi pelopor karena banyak laki-laki bermigrasi ke kota, meninggalkan ladang kepada ibu dan istri mereka.

Tantangan Sosial dan Budaya

Meski demikian, para perempuan petani menghadapi tantangan sosial dan budaya. Hak atas tanah, pengambilan keputusan di desa, dan pengakuan formal masih sulit diperoleh.

“Dulu saya hanya dianggap membantu suami. Sekarang, setelah suami saya merantau, saya baru diakui sebagai petani utama,”

ungkap Zhou, yang harus berjuang agar diakui sebagai kepala petani perempuan.

Dukungan Negara dan Masa Depan Cerah

Melalui program “Revitalisasi Pedesaan,” pemerintah pusat terus mendorong pemberdayaan perempuan. Akses kredit mikro, subsidi pupuk organik, dan inkubasi perempuan tani menjadi bagian dari program prioritas nasional.

Alpukat kini menjadi simbol harapan bagi perempuan petani. Tanamannya cocok di lahan berbukit dan tahan musim kering, sesuai kondisi geografis Yunnan.

Perempuan yang Menanam Harapan

Sosok Zhou Lifen bukan sekadar petani. Ia adalah pendobrak tradisi, penjaga ketahanan pangan lokal, dan simbol kebangkitan perempuan desa dalam sistem pertanian modern Tiongkok.

Dari balik hijau daun alpukat, mereka memeluk bumi dengan tangan-tangan kuat yang tak pernah menyerah. Mereka adalah akar yang menopang pohon besar perubahan sosial pedesaan Tiongkok.

(ath)

 

Related posts