DEAL KURSUS | Memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriyah, berbagai lapisan masyarakat mulai merefleksikan makna hijrah bukan hanya sebagai perpindahan fisik, tetapi sebagai perjalanan spiritual, sosial, dan moral menuju tatanan kehidupan yang lebih adil dan beradab. Di tengah semangat tersebut, sejumlah organisasi masyarakat sipil dan lembaga bantuan hukum di Indonesia menggelar pelatihan paralegal sebagai bentuk nyata dari semangat pembaruan sosial.
Contents
Keadilan dari Akar Rumput
Pelatihan ini digelar secara nasional dan lokal, baik secara daring maupun luring, menjangkau berbagai lapisan masyarakat—mulai dari pemuda, perempuan, hingga tokoh adat dan keagamaan. Tujuannya satu: membentuk agen-agen keadilan berbasis komunitas yang mampu mendampingi masyarakat dalam menghadapi persoalan hukum secara mandiri.
Di kota-kota seperti Medan, Makassar, dan Lombok, pelatihan paralegal menjadi program unggulan di momen Tahun Baru Islam. Materi yang disampaikan mencakup dasar-dasar hukum pidana dan perdata, advokasi hak-hak masyarakat miskin, mediasi konflik, serta keterampilan komunikasi hukum yang humanis.
“Semangat hijrah adalah transformasi. Maka pelatihan paralegal ini adalah bentuk hijrah sosial—dari ketidakberdayaan menuju pemberdayaan hukum,” ujar Siti Khotimah, koordinator pelatihan paralegal di Jakarta.
Nilai Islam dalam Praktik Paralegal
Yang menarik, pelatihan ini tidak hanya berbasis hukum formal, tapi juga mengangkat nilai-nilai keislaman dalam praktik keadilan sosial. Prinsip ‘amar ma’ruf nahi munkar’, musyawarah, dan ‘adl (keadilan) menjadi rujukan etis dalam menjalankan fungsi paralegal di tengah masyarakat.
Peserta pelatihan juga diajak mengenali nilai maqashid syariah—tujuan utama syariat Islam yang melindungi agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta—sebagai landasan moral dalam mendampingi korban kekerasan, pekerja informal, perempuan, dan anak-anak yang rentan terhadap ketidakadilan.
“Kami belajar bahwa hukum bukan sekadar pasal-pasal, tetapi juga moralitas. Dan Islam sangat kaya akan prinsip keadilan,” ungkap Budi Raharjo, peserta pelatihan dari Banyumas.
Hijrah Menuju Masyarakat Melek Hukum
Momentum Tahun Baru Islam menjadi simbol hijrah masyarakat dari ketidaktahuan hukum menuju pemahaman yang kritis dan partisipatif. Pelatihan paralegal memberikan keterampilan nyata—menulis pengaduan, memahami proses hukum, hingga mengadvokasi kasus secara damai. Para peserta diharapkan menjadi jembatan antara rakyat dan institusi hukum formal, khususnya di wilayah-wilayah yang minim akses bantuan hukum.
Program ini juga mendapat dukungan dari berbagai lembaga, termasuk Kementerian Hukum dan HAM, Mahkamah Agung, dan organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah, yang mendorong agar paralegal diakui secara legal sebagai mitra strategis dalam sistem peradilan.
Harapan Baru di Tahun Baru Hijriyah
Di tengah tantangan ketimpangan sosial dan kompleksitas birokrasi hukum, pelatihan paralegal di Tahun Baru Islam menjadi kabar baik. Ini bukan sekadar pendidikan hukum alternatif, tetapi gerakan moral yang tumbuh dari bawah, menguatkan prinsip keadilan substantif dan keberpihakan pada yang lemah.
Tahun Baru Islam bukan hanya peringatan sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW, tapi juga panggilan untuk hijrah sosial. Dari sistem hukum yang rumit dan elitis menuju sistem yang adil, partisipatif, dan berbasis masyarakat. Dan di tangan para paralegal inilah, masa depan keadilan sosial Indonesia perlahan-lahan sedang dibentuk. (ath)






