DEAL PROFIL | Di tengah hiruk-pikuk kota pelabuhan Quanzhou yang modern dan dinamis, berdiri sebuah bangunan tua yang diam-diam menyimpan sejarah panjang hubungan antara dunia Islam dan Tiongkok. Dialah Masjid Qingjing, atau dikenal juga sebagai Masjid Kemurnian, salah satu masjid tertua di Tiongkok yang menjadi saksi bisu masuknya Islam melalui jalur perdagangan maritim.
Contents
Jejak Sejarah Abad ke-11
Dibangun pada tahun 1009 Masehi, pada masa Dinasti Song Utara, Masjid Qingjing merupakan peninggalan arsitektur Islam yang sangat langka di Asia Timur. Keberadaan masjid ini menunjukkan bahwa Islam telah hadir di Tiongkok lebih dari seribu tahun lalu—dibawa oleh para pedagang Arab dan Persia yang menjadikan Quanzhou sebagai salah satu pelabuhan internasional tersibuk pada masa itu.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa Quanzhou saat itu dikenal sebagai “Zaitun”, pelabuhan penting dalam jalur sutra maritim. Para pedagang Muslim tak hanya membawa barang dagangan, tetapi juga nilai-nilai agama, budaya, dan ilmu pengetahuan.
Arsitektur Bergaya Timur Tengah
Yang membedakan Masjid Qingjing dari banyak masjid lain di Tiongkok adalah gaya arsitekturnya yang tidak mengikuti bentuk bangunan khas Tiongkok, melainkan menyerupai masjid-masjid di Suriah dan Yaman. Gerbang utama masjid yang megah terbuat dari batu kapur putih, dengan ornamen lengkung besar bergaya Arab dan ukiran kaligrafi kufi yang masih dapat terlihat meski sudah mulai aus oleh zaman.
Di dalam kompleks, terdapat halaman terbuka, sisa-sisa mihrab, dan menara batu yang dulu digunakan untuk adzan. Meski sebagian besar bangunannya kini berupa reruntuhan, aura spiritual dan nilai sejarahnya tetap terasa kuat.
Pusat Dialog Antaragama dan Budaya
Masjid Qingjing tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kehidupan sosial dan budaya komunitas Muslim di Quanzhou. Ia menjadi penghubung antara dunia Islam dan Tiongkok dalam hal perdagangan, bahasa, bahkan arsitektur. Saat ini, masjid ini juga menjadi situs wisata sejarah dan budaya yang dikunjungi oleh pelancong, peneliti, serta umat Muslim dari berbagai negara.
Pemerintah setempat telah menjadikan Masjid Qingjing sebagai situs cagar budaya nasional. Upaya pelestarian dilakukan dengan hati-hati, agar bangunan ini tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang, tanpa menghilangkan nuansa keasliannya.
“Masjid ini bukan sekadar bangunan, tapi simbol dari perjumpaan damai antara Islam dan Tiongkok,” ujar Prof. Zhang Wei, sejarawan dari Universitas Quanzhou. “Ia membuktikan bahwa interaksi lintas budaya sudah berlangsung jauh sebelum dunia mengenal globalisasi modern.”
Komunitas Muslim Quanzhou Hari Ini
Komunitas Muslim di Quanzhou, meskipun jumlahnya kecil, tetap menjaga nilai-nilai Islam yang diwariskan turun-temurun. Mereka menggelar pengajian, salat berjamaah, dan perayaan hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha—semua berlangsung damai dalam harmoni dengan masyarakat sekitar.
Masjid Qingjing pun kini menjadi jembatan pemahaman lintas iman. Pengunjung non-Muslim dipersilakan masuk untuk melihat langsung warisan Islam di negeri Tiongkok, sambil mendengar kisah tentang toleransi, perdagangan, dan dakwah yang menyeberangi lautan.
Masjid Qingjing di Quanzhou bukan hanya saksi sejarah penyebaran Islam di Asia Timur, tapi juga simbol persinggungan budaya yang damai. Di balik reruntuhannya, tersimpan pesan yang kuat: bahwa agama, budaya, dan perdagangan pernah berpadu dalam harmoni, jauh sebelum dunia modern mengenalnya. Dalam sunyi reruntuhannya, Masjid Qingjing tetap berdiri sebagai penjaga kenangan dan harapan akan dialog antarperadaban. (ath)






