DEAL PROFIL | Tegak anggun di tepian Sungai Brunei, dikelilingi taman yang tertata rapi dan kolam yang tenang, Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien bukan hanya rumah ibadah—ia adalah lambang kejayaan spiritual, identitas bangsa, dan kemegahan arsitektur Islam di Asia Tenggara.
Di jantung Bandar Seri Begawan, ibu kota Brunei Darussalam, masjid ini menjadi pusat denyut kehidupan umat Muslim sekaligus simbol negara yang berakar kuat pada prinsip Melayu Islam Beraja. Didirikan pada tahun 1958 oleh Sultan Omar Ali Saifuddien III, masjid ini menggabungkan kekayaan budaya Islam klasik dengan sentuhan arsitektur modern.
Contents
Arsitektur yang Memikat Dunia
Begitu memasuki kompleks masjid, mata langsung terpaku pada kubah emas menyala yang mendominasi langit kota. Dibangun dengan marmer Italia yang berkilau, jendela kaca patri dari Inggris, dan karpet impor dari Arab Saudi, masjid ini merupakan perpaduan gaya Mughal dan Italia, dengan sentuhan khas Melayu yang halus.
Menara setinggi 52 meter menjulang sebagai penanda arah kiblat, sementara kolam buatan yang mengelilinginya menciptakan ilusi bahwa masjid sedang terapung. Di malam hari, pantulan cahaya dari lampu-lampu taman membuat pemandangan masjid menjadi hampir magis—suatu pemandangan yang menjadi daya tarik bagi fotografer dan wisatawan dunia.
Fungsi Spiritual dan Sosial
Namun, masjid ini bukan hanya bangunan indah untuk dipotret. Ia adalah pusat kegiatan keagamaan Brunei. Dari salat lima waktu, khutbah Jumat, kajian tafsir, hingga perayaan besar seperti Maulid Nabi dan Nuzulul Qur’an, semua berpusat di sini.
Warga setempat menggambarkan masjid ini sebagai “jantung rohani bangsa.” Menurut Imam Besar Masjid, Tuan Haji Mohd Noor, masjid ini dibangun bukan hanya untuk memperindah kota, tetapi sebagai manifestasi cita-cita sang Sultan agar rakyat Brunei tumbuh dalam ketakwaan dan kesadaran Islam yang kuat.
Jejak Sejarah dan Kebangsaan
Nama masjid ini diambil dari Sultan Omar Ali Saifuddien III, ayah dari Sultan Hassanal Bolkiah, yang dikenal sebagai Bapak Kemerdekaan Brunei. Dialah pemimpin yang menggagas transformasi Brunei dari negeri feodal menuju negara modern yang tetap teguh dalam nilai-nilai Islam.
“Masjid ini adalah warisan dari visi panjang seorang Sultan yang percaya bahwa agama bukan hanya urusan pribadi, tapi fondasi utama negara,” ujar seorang sejarawan lokal, Dr. Azharudin bin Ahmad.
Daya Tarik Wisata Religi dan Budaya
Bagi wisatawan, Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien adalah destinasi wajib. Namun berbeda dari sekadar objek wisata biasa, masjid ini juga menjadi tempat belajar dan merenung. Pengunjung non-Muslim diperbolehkan masuk di waktu-waktu tertentu, dengan aturan ketat demi menjaga kesucian ruang ibadah.
Pihak pengelola masjid juga menyediakan pemandu yang menjelaskan filosofi arsitektur dan nilai-nilai yang melekat dalam setiap elemen bangunan—mulai dari desain menara, kaligrafi di dalam ruang salat, hingga replika perahu kerajaan yang terapung di kolam luar, yang melambangkan pelayaran spiritual menuju Tuhan.
Simbol Abadi di Tengah Modernisasi
Bandar Seri Begawan kini terus berkembang dengan pembangunan pusat perbelanjaan, hotel mewah, dan infrastruktur modern. Namun, Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien tetap berdiri sebagai penjaga nilai. Ia adalah pengingat bahwa di tengah arus globalisasi, identitas Islam dan budaya Melayu tetap menjadi poros utama Brunei Darussalam.
Dalam senyapnya malam dan gemuruh doa yang mengalun dari dalam ruang salat, masjid ini mengisyaratkan sesuatu yang lebih dalam: bahwa kemegahan sejati tak terletak pada kilau emas atau marmer mewah, tapi pada kekuatan iman yang menyatukan rakyat dan pemimpinnya. (ath)






