Cerita Jatuhnya Intel: Menolak Inovasi hingga CEO Mundur

Foto dibuat menggunakan Artificial Intelegence chatgpt.com OpenAI

Jakarta, DEAL NASIONAL | Intel, raksasa teknologi yang dulu menjadi pemimpin di industri chip, kini mengalami kemunduran yang signifikan. Sepanjang tahun 2024, performa bisnis perusahaan terus menurun hingga menyebabkan pengunduran diri CEO-nya, Pat Gelsinger, awal bulan ini.

Sebagai salah satu pelopor industri semikonduktor, Intel pernah dikenal sebagai inovator utama. Namun, belakangan ini, perusahaan tersandung karena terlambat mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang kini didominasi oleh pesaingnya, Nvidia. Dengan nilai pasar mencapai lebih dari USD 3 triliun, Nvidia jauh meninggalkan Intel yang hanya bernilai USD 89 miliar.

Read More

Mengutip laporan CNBC Indonesia, Intel sebenarnya sempat memiliki peluang emas untuk membeli saham di OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, sekitar tujuh tahun lalu. Saat itu, OpenAI masih berupa organisasi penelitian nirlaba yang mencari mitra strategis. Salah satu opsi kerja sama yang diajukan adalah pembelian 15% saham senilai USD 1 miliar serta produksi perangkat keras khusus untuk OpenAI. Namun, peluang tersebut tidak diambil.

 

Keputusan yang Salah

Keputusan untuk tidak melanjutkan kerja sama ini dilaporkan berasal dari Bob Swan, CEO Intel pada waktu itu. Swan meragukan potensi pasar model AI generatif dalam waktu dekat, sehingga tidak yakin investasi tersebut akan menguntungkan. Namun, prediksi Swan meleset. ChatGPT berkembang pesat, menjadikan OpenAI perusahaan besar yang sangat sukses.

Sementara itu, Nvidia, Meta, dan perusahaan lain terus memperkuat pengembangan AI mereka. Intel tertinggal jauh dalam perlombaan teknologi ini, yang berdampak buruk pada bisnisnya secara keseluruhan.

 

Kinerja Bisnis Memburuk

Laporan menunjukkan Intel kehilangan setengah dari nilai pasarnya pada tahun 2024, dengan pendapatan terburuk dalam 50 tahun terakhir. Untuk bertahan, perusahaan melakukan restrukturisasi besar-besaran, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 15.000 karyawan atau 15% dari total tenaga kerja.

Selain itu, Intel berencana memisahkan divisi manufaktur dari bisnis inti desain dan penjualan prosesor. Langkah ini diharapkan dapat menarik investor eksternal, meskipun belum jelas apakah Qualcomm, yang dilaporkan tertarik, akan mengambil langkah nyata.

 

Pergantian CEO

Di tengah kondisi yang semakin sulit, Dewan Direksi Intel meminta Pat Gelsinger mengundurkan diri dari jabatannya. Meski demikian, Gelsinger tetap menerima pesangon besar senilai USD 9,7 juta. Paket ini mencakup gaji pokok, bonus, dan insentif lainnya.

Intel kini tengah mencari strategi baru untuk bangkit. Perusahaan berencana meluncurkan teknologi manufaktur 18A pada tahun 2025 dan bekerja sama dengan pelanggan besar seperti Amazon. Namun, hanya waktu yang akan menjawab apakah langkah-langkah ini cukup untuk mengembalikan kejayaan Intel.

 

Dikutip dari CNBC Indonesia dengan judul Cerita Keruntuhan Intel, Tolak Inovasi hingga CEO Dipecat

Related posts