DEAL RILEKS | Musim penghujan yang melanda beberapa daerah di Indonesia telah berdampak signifikan pada aktivitas dan kehidupan sehari-hari warga. Di tengah kondisi banjir yang menyulitkan akses bahan pangan, banyak keluarga mengandalkan tumis toge sebagai lauk utama karena harganya yang terjangkau dan mudah ditemukan di pasar tradisional. Sebagai makanan yang sederhana, tumis toge menjadi pilihan karena bahan-bahan utama—toge dan bawang—umumnya masih tersedia di pasar bahkan saat banjir.
Toge, yang berasal dari kecambah kacang hijau, merupakan sumber nutrisi yang baik, dengan kandungan vitamin C, serat, dan mineral yang penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Kandungan vitamin C yang tinggi dianggap membantu tubuh melawan risiko penyakit yang sering muncul di musim hujan, seperti flu atau infeksi ringan. Ditambah dengan cara memasak yang sederhana dan cepat, tumis toge menjadi solusi bagi warga yang tidak memiliki banyak waktu untuk mengolah makanan karena fokus pada mengamankan tempat tinggal mereka dari genangan air.
Menurut Wati, seorang ibu rumah tangga di Kampung Melayu, Jakarta Timur, lauk tumis toge memberikan rasa kenyang dan cukup bergizi bagi keluarganya. “Kalau banjir begini susah keluar beli lauk atau ikan, jadi yang mudah dicari ya toge. Selain murah, masaknya juga nggak ribet,” ujar Wati sambil merapikan beberapa kantung sayuran di rumahnya yang terendam air.
Penjual toge di beberapa pasar tradisional seperti di Pasar Jatinegara melaporkan peningkatan permintaan selama banjir. Suryani, salah satu pedagang, menyatakan bahwa banyak pembeli datang untuk mencari bahan makanan yang mudah diolah dan bisa bertahan lebih lama tanpa lemari pendingin. “Selama musim banjir, orang lebih sering beli toge karena cepat habis dan nggak gampang rusak,” ungkapnya.
Namun, di balik popularitasnya, konsumsi toge selama musim banjir juga menghadirkan tantangan, khususnya dalam hal kebersihan. Kebersihan air yang digunakan untuk mencuci sayuran sering kali diragukan, terutama di daerah yang sistem drainasenya terganggu. Para ahli kesehatan mengimbau agar warga memastikan sayuran dicuci dengan air bersih atau direndam dalam air matang sebelum dimasak untuk menghindari bakteri yang mungkin terbawa dari banjir.
Tumis toge menjadi bukti bahwa dalam situasi terbatas sekalipun, masyarakat dapat beradaptasi dengan mengandalkan bahan makanan lokal yang terjangkau. (ath)






