Generasi Y dan Z Mulai Melirik Pengelolaan Hutan Wisata

DEAL RILEKS | Generasi muda yang lahir di tahun 1990an dan tahun 2000an saat ini mulai berkembang dan mengembangkan dirinya, sebagian dari mereka ada yang telah lulus kuliah dan bekerja, bahkan ada yang telah menikah dan mempunyai anak. Namun sebagian lainnya, mereka yang jamak disebut generasi Y dan generasi Z itu, masih ada yang bingung menentukan masa depannya.

Menurut hasil penelitian Alwas Institute Indonesia, perkembangan generasi Y dan generasi Z sekarang sudah memuaskan, apalagi di bidang ekonomi dan bisnis. Mereka lebih fokus pada pengembangan diri di bidang usaha dan bisnis mandiri, sering disebut start up.

Read More

Susahnya mencari kerja zaman sekarang, menjadi alasan mereka membuka peluang usaha sendiri, menciptakan lapangan kerja dan memulai bisnis mandiri. Salah satu dari peluang kerja tersebut ialah pengelolaan hutan wisata.

“Ada lahan tidak terpakai, kami sewa atau kerjasama dengan yang punya lahan itu, kemudian kami kelola menjadi taman wisata atau hutan wisata,” kata Mulya Syarif, pengusaha asal Magelang kepada www.deal-channel.com pada Rabu (24/05) melalui pesan WhatsApp.

Pengusaha hutan wisata tersebut mengatakan, lebih mudah berbisnis pengelolaan hutan wisata daripada pengelolaan sampah ataupun limbah, meskipun sebelumnya ia pernah berbisnis di bidang sampah dan limbah, tetapi saat ini pengelolaan taman dan hutan wisata lebih menjanjikan.

“Aspek bisnis dan masa depan ada, keuntungan pasti ada, masyarakat butuh rehat dan rileks, mereka mencari tempat murah, nyaman dan aman, ya ini, taman atau hutan wisata,” tegasnya.

Konsepnya menurut Syarif, mereka menyewa hutan kecil yang tidak terpakai, kemudian digarap menjadi tempat rileks, tempat wisata yang di dalamnya ada fasilitas umum seperti free wifi, warung kopi, café , toilet dan tempat bermain anak-anak.

Tidak sampai di sana jelas Syarif, hutan wisata juga dapat disediakan hewan-hewan jinak yang telah dipelihara seperti kuda, kucing, kancil, kijang dan aneka jenis burung.

“Para pengunjung dapat berfoto dan memberikan mereka makanan, rileks dan mereka pun riang, hasilnya pasti ada, dari pembelian makanan hewan, penjualan makanan dan minuman,” papar mantan pengusaha kursus bahasa Inggris itu.

Menurut pengamat pertanian dan tata kelola hutan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Aman Sulaiman, pengelolaan hutan dan taman wisata masih jarang dilakukan oleh para pengusaha dan pemilik modal, hal itu disebabkan mereka belum memahami dalam seluk beluk bisnis dan tata kelolanya.

Dengan demikian menurutnya, ke depan bisnis ini akan menjadi peluang besar bagi para pengusaha muda generasi Y dan Z, termasuk para pemilik modal dan investor. (ath)

Related posts