DEAL EKBIS | Jika para investor sepakat pada satu hal tahun ini, maka itu adalah dolar akan jatuh. Hal ini membuat kenaikan 2% dari dolar AS selama sebulan terakhir sangat membingungkan.
Dilansir Reuters, Inflasi AS mendingin dan Federal Reserve (Fed) mungkin akan menghentikan kenaikan suku bunganya bulan depan. Jadi, dolar seharusnya turun, bukan?
Para analis mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang mungkin berperan. Salah satunya adalah berbagai kekhawatiran–tentang negosiasi pagu hutang AS, kesehatan bank-bank dan prospek ekonomi global yang membuat kredibilitas dolar sebagai asset safe-haven menurun.
Aset safe-haven adalah asset investasi yang diharapkan dapat tetap terjaga nilainya meskipun kondisi perekonomian dunia sedang tidak stabil.
Sementara itu, ada beberapa tanda bahwa the Fed mungkin harus menaikkan suku bunga lagi dan bahwa lebih banyak faktor teknis yang berkaitan dengan posisi investor yang terlibat.
Kekhawatiran Pagu Hutang AS
Indeks dolar yang mengukur mata uang AS terhadap enam mata uang lainnya telah naik sekitar 2% sejak pertengahan April ke level 103, meskipun masih turun sekitar 10% dari level tertinggi 20 tahun di bulan September lalu, yaitu 114,78.
Penjelasan para ahli strategi mata uang saat ini adalah bahwa bencana pagu hutang mendorong penguatan dolar AS.
Partai Demokrat dan Partai Republik semakin dekat untuk mencapai kesepakatan dalam menaikkan batas pinjaman sebesar $31,4 triliun. Namun ancaman gagal bayar utang AS yang berpotensi menjadi bencana tetap ada, karena pada saat ini banyak perbankan terlihat lemah.
Ketika pasar dihadapkan pada kekhawatiran seperti itu, mereka sering membeli aset-aset yang kurang berisiko seperti obligasi, emas dan dolar.
“Penguatan dolar AS baru-baru ini sebagian besar didorong oleh meningkatnya permintaan safe-haven mengingat ‘ketidakpastian yang tidak diketahui’,” kata Esther Reichelt, pakar strategi mata uang di Commerzbank.
Seberapa parah kerentanan di bank-bank regional AS dan apa yang mungkin terjadi sebagai dampak dari eskalasi konflik pagu hutang AS?
Beberapa tanda yang mengkhawatirkan tentang pertumbuhan ekonomi global juga mungkin berkontribusi pada pembelian asset safe haven. Data dari China pada minggu ini menunjukkan bahwa ekonominya berkinerja buruk di bulan April.
The Fed Mungkin Belum Selesai
Kepala strategi FX Asia di RBC Capital Markets, Alvin Tan, meragukan argumen tentang asset safe haven.
Banyak argumen jika para investor khawatir saham-saham akan jatuh. Kenyataannya, indeks S&P 500 telah mendatar sejak pertengahan April dan telah naik lebih dari 8% tahun ini.
Tan mengatakan bahwa kekhawatiran the Fed belum berhasil menurunkan inflasi adalah bagian dari cerita kenaikan dolar AS saat ini. Sebuah survey Universitas Michigan yang dirilis minggu lalu menunjukkan ekspektasi inflasi konsumen naik ke level tertinggi dalam lima tahun terakhir yaitu 3,2% di bulan Mei, mengangkat imbal hasil obligasi dan dolar.
Para trader saat ini memperkirakan bank sentral AS akan memangkas suku bunga secara tajam akhir tahun ini seiring dengan resesi yang terjadi, namun Tan tetap skeptis.
“Kami pikir ada kemungkinan bahwa suku bunga AS dapat naik lebih tinggi,” katanya. “Kami tetap tidak yakin dengan argument bahwa dolar akan terus menurun dari sini,”ungkap Tan.
Rebound Alami
Bagi analis lain, faktor teknikal yang disebut sebagai faktor yang berperan.
Para investor telah memasang “taruhan” besar terhadap dolar. Taruhan short net to dari hedge fund dan spekulan lainnya mencapai $14,56 miliar minggu lalu, data dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas menunjukkan, posisi terbesar sejak pertengahan 2021.
Secara berlawanan dengan intuisi, posisi tersebut dapat membantu mendorong reli. Jika dolar naik sedikit, beberapa trader mungkin terpaksa menutup posisi short (jual) mereka dengan membeli dolar, yang kemudian mendorong nilainya.
“Dolar sudah sangat, sangatoversold,” kata Chester Ntonifor, ahli strategi FX di BCA Research.
Over sold adalah kondisi ketika sebuah asset diperdagangkan dengan harga yang lebih rendah dari wajar.
“Itu adalah salah satu indicator teknikal. Namun, indicator teknikal yang sederhana adalah sangat tidak lazim bagi Anda untuk mengalami penurunan garis lurus dalam dolar,” jelas Ntonifor.(alfi)









