DEAL FOKUS | Barus menjadi titik tolak masuknya Islam di Indonesia nusantara yang ditandai dan diperkuat dengan Tugu Titik Nol yang diresmikan pada 27 Maret 2017 oleh Presiden Joko Widodo. Adanya pembaruan sejarah ini, tentu mengubah Paradigma baru dimana Islam awal masuk ke Nusantara diyakini berasal dari Aceh. Berbagai penelitian terus digali oleh para ahli untuk menemukan kebenaran tentang fakta bahwa Islam masuk ke Nusantara.
Barus terdiri dari berbagai masyarakat multietnis yang memiliki keragaman kepercayaan, mulai dari Islam, Kristen, dan Parmalin yang mampu hidup damai dan rukun serta toleransi. Realisasi ini kehidupan yang damai, tentunya tidak lepas dari adanya sejarah. Proses interaksi, asimilasi dan akulturasi dapat terjadi kondisi damai atau konflik yang akhirnya terwujud dalam multietnis dan kehidupan multireligius. Hal ini terlihat dari periode awal sebelum kedatangan Islam, periode kedatangan Islam, Portugis dan periode Belanda. Gulliot dalam karyanya menulis tentang Barus. Sebuah pemukiman di Sumatera Utara yang menjadi pusat pelabuhan internasional.
Bukti kompleks makam Barus bertanggal 14-15 berabad-abad seperti halnya kompleks Makam Mahligai menggunakan Persia dan Arab, mulai dari Makam Syekh Mahmud dan Makam Syekh Rukunuddin yang dipercaya memiliki usia yang sama dengan para sahabat Nabi Muhammad saw.
Proses interaksi ini menunjukkan bahwa masyarakat Barus semakin mengenal dan terbuka terhadap budaya dan agama dari luar, seperti Timur Tengah, Cina, India, Gujarat, Persia, dan Tamil.
Sebelum Islam datang, Barus dikenal sebagai tempat yang strategis perdagangan pada zaman dahulu. Hal ini terlihat dari kemasyhuran Barus sampai ke Timur Tengah dan Persia, ke Cina. Di era Lobu Tua, Sassanid berinteraksi dan berdagang di Barus sejak abad ke-4 Masehi.
Komoditi unggulan Barus adalah Kamper yang digunakan sebagai bahan obat untuk orang Sassanid. Terkait dengan Kamper, pada abad ke-6 M pasukan Arab menemukan wadah atau guci mengandung Kamper selama penaklukan di istana Ctesiphon. Itu keberadaan penemuan kamper ini didapat dari tulisan-tulisan Abu Salih al-Armi, yang mengatakan bahwa Fansur-Barus adalah asal mendapatkan Kamper. Barus berinteraksi dengan berbagai budaya dan agama di bagian ini di dunia. Tentu budaya dan awal mula di Barus ada apa disebut aliran Parmalin, Animisme dan dinamisme, Hindu dan Buddhisme sebagai periode awal sebelum kedatangan Islam dan Kristen di Sumatera Utara pada umumnya. Adanya proses interaksi dengan berbagai budaya dan agama akan berdampak pada perbendaharaan dan perkembangan kelembagaan
Dengan berdirinya Tugu Titik Nol Islam menjadi simbol dan citra Islam di Nusantara, dimulai dari Barus yang memiliki ciri khas tersendiri karena terdapat berbagai budaya dan agama yang telah lama berinteraksi satu sama lain secara tidak langsung mempengaruhi akulturasi budaya lokal. Harmoni dan hidup toleran adalah bukti di Barus. Namun, kondisi dari mayoritas Muslim dan budaya atau kerajaan Islam diubah bukan dalam bentuk warisan atau perawatan khusus untuk situs dan tradisi mengembangkan masyarakat di Barus sebagai pusat Islam Nusantara.(ath)






