DEAL GENDER | Perempuan India itu merebahkan tubuhnya di lantai stasiun New Delhi, seolah riuh ribuan manusia, pengumuman keberangkatan, dan suara roda koper tidak lagi cukup kuat untuk mengusik lelah yang menumpuk di tubuhnya. Perempuan itu memilih menunggu dengan cara paling sederhana: berbaring, memejamkan mata, dan membiarkan waktu berjalan sampai kereta yang ditunggunya tiba.
Stasiun New Delhi bukan ruang yang mudah untuk menemukan kesunyian. Penumpang datang dari berbagai penjuru, membawa koper, tas kain, kardus, barang dagangan, hingga bekal perjalanan. Pedagang bergerak di sela kerumunan. Petugas sesekali memberikan pengumuman. Anak-anak menggandeng tangan orang tua. Para pekerja mencari gerbong mereka. Sementara itu, perempuan-perempuan seperti sosok tersebut mencoba menciptakan ruang pribadi di tengah lautan manusia.
Perempuan itu tidak sedang mempertontonkan kemiskinan. Perempuan itu sedang memperlihatkan sebuah kenyataan yang jauh lebih manusiawi: perjalanan panjang membutuhkan kesabaran, dan kesabaran sering kali datang bersama rasa lelah.
Wajah perempuan India di stasiun New Delhi menyimpan cerita yang tidak selalu bisa dibaca dari pakaian atau barang bawaan. Ada perempuan yang bepergian untuk menemui keluarga. Ada yang pulang ke kampung halaman. Ada yang mengejar pekerjaan di kota lain. Ada pula yang sekadar menjadi bagian dari arus mobilitas besar yang membuat stasiun tersebut tidak pernah benar-benar kehilangan denyut kehidupannya.
Perempuan yang tergeletak menunggu itu menjadi semacam potret kecil dari kehidupan perjalanan di India. Tubuhnya mungkin terlihat pasrah, tetapi keputusannya untuk tetap menunggu menunjukkan sesuatu yang berbeda. Ia tahu kereta akan datang. Ia tahu perjalanan akan berlanjut. Ia hanya membutuhkan waktu untuk mengistirahatkan tubuh sebelum kembali menjadi bagian dari kerumunan.
Lantai stasiun yang bagi sebagian orang terasa keras dan tidak nyaman berubah menjadi tempat beristirahat sementara. Koper menjadi sandaran. Tas menjadi bantal. Jaket atau kain menjadi pelindung tubuh. Perempuan-perempuan lain melakukan hal serupa dalam ruang yang tersedia. Privasi menjadi barang mewah ketika ribuan orang harus berbagi ruang untuk menunggu kereta.
New Delhi memperlihatkan paradoks itu dengan sangat jelas. Kota tersebut dikenal sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, teknologi, dan kehidupan modern India. Namun di stasiunnya, kehidupan berjalan dengan ritme yang jauh lebih sederhana. Manusia menunggu manusia. Tubuh menunggu kendaraan. Waktu menunggu jadwal keberangkatan.
Perempuan India yang berbaring di stasiun itu juga memperlihatkan sisi lain perjalanan yang jarang muncul dalam gambar-gambar tentang India. Kamera wisatawan biasanya mengejar Taj Mahal, warna-warni sari, kuil, pasar, atau kemegahan bangunan bersejarah. Stasiun justru menawarkan pemandangan yang lebih jujur tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan sehari-hari.
Perempuan itu tidak berdiri di depan bangunan megah. Perempuan itu tidak sedang tersenyum untuk kamera. Perempuan itu hanya menunggu.
Menunggu merupakan bagian penting dari perjalanan kereta api India. Penumpang dapat menghabiskan waktu berjam-jam di stasiun sebelum kereta datang atau sebelum jadwal keberangkatan berikutnya. Bagi sebagian orang, waktu tunggu menjadi kesempatan untuk makan, berbincang, tidur, membaca, berdoa, atau sekadar memandangi pergerakan manusia di sekitar mereka.
Perempuan India memiliki cara sendiri untuk bertahan dalam ruang publik seperti stasiun. Sebagian duduk berkelompok bersama keluarga. Sebagian menjaga barang bawaan sambil bergantian beristirahat. Sebagian memilih sudut tertentu agar lebih nyaman. Sebagian lainnya, seperti perempuan dalam potret tersebut, membiarkan tubuhnya rebah sejenak karena perjalanan panjang menuntut tenaga yang tidak sedikit.
Kereta kemudian menjadi lebih dari sekadar alat transportasi. Kereta menjadi penghubung antara rumah dan pekerjaan, kota dan desa, masa lalu dan masa depan. Setiap gerbong membawa cerita yang berbeda. Setiap penumpang membawa alasan masing-masing untuk pergi.
Perempuan yang terbaring di lantai stasiun itu mungkin tidak mengetahui bahwa dirinya sedang menjadi bagian dari sebuah pemandangan yang menggambarkan India secara utuh. Perempuan itu hanya sedang menunggu. Namun dari penantiannya, terlihat bagaimana kehidupan jutaan orang bergerak melalui jaringan kereta api yang sangat besar.
Suara pengumuman kemudian terdengar dari pengeras suara. Perempuan itu mungkin segera bangun, merapikan pakaian, mengambil barang bawaannya, lalu berjalan menuju peron. Tubuh yang beberapa menit sebelumnya tergeletak karena lelah kembali bergerak mengikuti arus penumpang.
Kereta akan datang, pintunya akan terbuka, dan kerumunan akan bergerak seperti gelombang.
Perempuan itu akan naik.
Perempuan itu akan meninggalkan stasiun.
Perempuan itu akan membawa cerita baru menuju tempat yang ditujunya.
Stasiun New Delhi pada akhirnya bukan hanya tempat kereta datang dan pergi. Stasiun itu adalah panggung kehidupan tempat manusia memperlihatkan dirinya dalam keadaan paling sederhana—lelah, sabar, tergesa, bahagia, cemas, dan kadang hanya ingin berbaring sebentar sebelum perjalanan kembali dimulai.
Perempuan India yang tergolek menunggu kereta menjadi simbol kecil dari jutaan penumpang yang setiap hari berhadapan dengan perjalanan, jarak, dan waktu. Ia mengingatkan bahwa di balik statistik penumpang dan panjangnya jaringan rel, selalu ada manusia dengan tubuh yang bisa lelah dan hati yang terus menunggu.
Kereta mungkin terlambat. Peron mungkin penuh. Perjalanan mungkin panjang.
Namun perempuan itu tetap menunggu.
Sebab bagi sebagian besar penumpang di stasiun New Delhi, menunggu bukan berarti berhenti.
Menunggu adalah bagian dari perjalanan. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel






