DEAL ZIQWAF | Di sebuah kampung kecil di pinggiran kota Sanya, Pulau Hainan, kehidupan mulai bergerak pelan ketika malam masih menyelimuti langit. Menjelang pukul tiga dini hari, lampu-lampu rumah di kawasan komunitas Muslim mulai menyala. Beberapa warga keluar dari rumah mereka dengan langkah tenang, berjalan menuju halaman masjid untuk satu kegiatan yang telah menjadi bagian dari tradisi Ramadhan: sahur berjamaah.
Bagi komunitas Muslim keturunan Champa yang dikenal sebagai Utsul, sahur bersama bukan sekadar makan sebelum berpuasa. Ia adalah momen spiritual yang mempertemukan nilai ibadah, kebersamaan, dan ingatan sejarah tentang leluhur yang datang ke pulau ini berabad-abad lalu.
Contents
Kehidupan yang Bangun Sebelum Fajar
Di dapur-dapur rumah warga, aroma nasi hangat dan sup sederhana mulai tercium. Para perempuan menyiapkan hidangan sahur yang biasanya terdiri dari nasi, sayuran, ikan, serta teh hangat. Sebagian makanan kemudian dibawa ke halaman masjid atau ruang pertemuan kampung. Warga datang secara bergelombang, membawa mangkuk dan piring dari rumah masing-masing.
Suasana berlangsung tenang. Percakapan dilakukan dengan suara pelan, seolah menjaga kesunyian dini hari yang masih menyelimuti kampung. Bagi banyak warga, sahur berjamaah menjadi salah satu momen paling bermakna selama Ramadhan karena mereka dapat berkumpul bersama keluarga dan tetangga sebelum memulai puasa.
Spiritualitas dalam Kebersamaan
Di antara meja-meja sederhana yang dipenuhi makanan, tidak ada kesan kemewahan. Namun justru di situlah letak kekuatan tradisi ini. Warga duduk bersila atau di kursi kecil, saling berbagi hidangan. Anak-anak terlihat mengantuk tetapi tetap berusaha mengikuti suasana sahur bersama orang tua mereka. Bagi para tetua komunitas, kegiatan sahur berjamaah adalah cara menjaga hubungan spiritual antaranggota masyarakat.
“Sahur bersama membuat kami merasa lebih dekat satu sama lain,” ujar seorang tokoh komunitas. “Ini bukan hanya tentang makan, tetapi tentang mengingat Allah dan memulai puasa dengan kebersamaan.”
Di sela-sela makan, beberapa warga melafalkan doa atau membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara perlahan.
Jejak Champa yang Masih Hidup
Komunitas Utsul diyakini sebagai keturunan masyarakat Champa yang bermigrasi ke Hainan berabad-abad lalu. Meskipun kini hidup di tengah masyarakat Tiongkok modern, mereka tetap mempertahankan identitas keagamaan dan sebagian tradisi budaya mereka.
Bahasa Tsat—bahasa yang berasal dari rumpun Chamic—masih terdengar dalam percakapan antar warga, terutama di kalangan generasi tua.
Sahur berjamaah menjadi salah satu tradisi yang membantu menjaga kontinuitas identitas tersebut. Melalui kegiatan ini, generasi muda diperkenalkan pada nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas yang diwariskan oleh leluhur mereka.
Menyambut Fajar Bersama
Menjelang waktu Subuh, kegiatan sahur mulai berakhir. Warga perlahan merapikan meja dan membersihkan tempat makan. Sebagian kemudian berdiri untuk mengambil air wudu. Ketika azan Subuh terdengar dari masjid kecil di kampung itu, seluruh jamaah membentuk barisan salat. Keheningan dini hari berubah menjadi suasana khusyuk yang penuh ketenangan. Setelah salat, sebagian warga kembali ke rumah untuk beristirahat sebelum memulai aktivitas harian mereka.
Di pulau tropis yang lebih dikenal sebagai destinasi wisata internasional ini, kehidupan komunitas Muslim Champa menghadirkan cerita lain tentang Hainan. Di antara kesunyian dini hari dan cahaya lampu masjid yang temaram, sahur berjamaah menjadi gambaran bagaimana spiritualitas, sejarah, dan solidaritas sosial terus hidup di tengah komunitas kecil Muslim di selatan Tiongkok. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G









