DEAL FOKUS | MADINAH — Ketika senja perlahan merunduk di ufuk barat, cahaya keemasan menyapu pelataran Masjid Nabawi. Di tengah kepadatan jamaah yang memenuhi ruang utama masjid, ada satu sudut yang menawarkan perspektif berbeda tentang Ramadhan: hamparan rooftop, atap luas yang menjadi ruang tafakur terbuka di bawah langit kota Nabi.
Di tempat yang lebih tinggi dari kerumunan itu, para jamaah datang membawa kerinduan yang sama—mendekatkan diri kepada Allah dalam suasana yang lebih lapang. Menjelang waktu Tarawih, arus manusia bergerak naik melalui tangga dan eskalator, mencari ruang untuk membentangkan sajadah. Angin gurun berembus lembut, kadang menyisakan hawa hangat siang hari, namun tak mengurangi kekhusyukan mereka yang berdiri dalam saf panjang.
Saat azan Maghrib berkumandang, rooftop berubah menjadi ruang kebersamaan. Kurma berpindah tangan, botol-botol air zam-zam dibagikan, dan doa berbuka dilantunkan serempak. Tidak ada sekat bahasa atau bangsa. Jamaah dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika duduk berdampingan, dipersatukan oleh iman dan momentum Ramadhan.
Selepas Isya, lantunan ayat suci mengalir dari pengeras suara, menggema hingga ke batas langit malam Madinah. Dari atas sana, payung-payung raksasa di pelataran masjid terlihat seperti barisan kelopak yang terlipat rapi. Cahaya lampu memantul di lantai marmer, menciptakan pendar yang seolah menyatu dengan bintang-bintang.
Memasuki sepuluh malam terakhir, suasana di rooftop semakin sarat harap. Jamaah memperpanjang qiyamul lail, menengadahkan tangan dalam doa panjang, menanti kemungkinan hadirnya Lailatul Qadar. Dalam keheningan yang hanya dipecah lantunan Al-Qur’an, setiap individu larut dalam dialog personal dengan Sang Pencipta.
Menjelang sahur, udara Madinah terasa lebih sejuk. Sebagian jamaah tetap bertahan di atas atap, membaca Al-Qur’an atau berzikir hingga fajar menyingsing. Ketika azan Subuh berkumandang, cahaya pertama hari itu menyentuh kubah hijau masjid, menandai berakhirnya satu malam ibadah dan dimulainya hari baru penuh pengharapan.
Begitulah Ramadhan di rooftop Masjid Nabawi: bukan sekadar ruang tambahan untuk shalat, melainkan panggung sunyi tempat doa-doa melangit, persaudaraan terajut, dan jiwa-jiwa menemukan keteduhan di bawah bentangan langit Madinah. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








