Di Bawah Langit Merah Qinghai: Memahami Islam di Xining dalam Bingkai Komunisme Tiongkok

Islam di Xining tumbuh dalam sistem komunisme Tiongkok, menunjukkan adaptasi dan ketahanan komunitas Muslim Hui. Dok : Deal Channel

DEAL PROFIL | Xining, Qinghai — Di kota yang dikelilingi pegunungan tinggi dan udara tipis dataran barat laut Tiongkok, bendera merah dengan lima bintang itu berkibar di gedung-gedung pemerintahan. Xining hidup dalam sistem negara yang secara ideologis berakar pada komunisme, dengan Partai Komunis Tiongkok sebagai poros kekuasaan. Namun di sela-sela jalan raya modern, pasar halal, dan kompleks apartemen bertingkat, azan tetap menggema dari masjid-masjid tua komunitas Muslim Hui.

Di sinilah paradoks itu terasa nyata: sebuah negara yang secara resmi menganut sosialisme dengan karakteristik Tiongkok, namun dalam praktik sosialnya mengakui keberadaan agama-agama, termasuk Islam, dalam kerangka regulasi yang ketat. Memahami Islam di Xining berarti membaca realitas yang tidak hitam-putih—melainkan penuh lapisan adaptasi, negosiasi, dan ketahanan budaya.

Read More

 

Hui: Muslim yang Menjadi Bagian dari Tiongkok

Suku Hui adalah salah satu dari 56 kelompok etnis yang diakui secara resmi di Tiongkok. Secara fisik dan bahasa, mereka hampir tak terbedakan dari mayoritas Han. Mereka berbicara Mandarin, bersekolah di institusi nasional, dan bekerja di sektor-sektor publik maupun swasta. Namun identitas Islam menjadi pembeda yang dijaga dalam praktik sehari-hari—dalam makanan halal, tata cara pernikahan, hingga ritual ibadah.

Di Xining, populasi Muslim cukup signifikan dibanding banyak kota lain di Tiongkok. Masjid-masjid berdiri sebagai pusat ibadah sekaligus ruang sosial. Pendidikan agama tetap berlangsung, meski berada dalam pengawasan dan kerangka hukum negara. Agama tidak diposisikan sebagai oposisi terhadap negara, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sosial yang harus selaras dengan stabilitas nasional.

 

Negara, Ideologi, dan Ruang Ibadah

Konstitusi Tiongkok menjamin kebebasan beragama, namun pelaksanaannya berada dalam regulasi yang ketat. Organisasi keagamaan harus terdaftar dan berada dalam struktur asosiasi resmi. Di Xining, masjid-masjid Hui beroperasi dalam kerangka itu—imam diakui secara administratif, kegiatan keagamaan berlangsung di tempat yang telah disetujui, dan pendidikan agama formal mengikuti batasan usia serta kurikulum tertentu.

Bagi sebagian pengamat luar, sistem ini dipandang sebagai pembatasan. Namun bagi banyak warga Hui yang ditemui di Xining, realitas itu diterjemahkan sebagai bagian dari tata kelola negara yang menekankan harmoni sosial. Mereka beribadah, berdagang, membesarkan anak, dan menjalankan kehidupan profesional dalam sistem yang menuntut loyalitas pada negara sekaligus menjaga identitas komunitas.

Di ruang sidang pengadilan, di kantor pemerintahan, hingga di universitas, warga Hui duduk sejajar dengan warga etnis lain. Mereka adalah pegawai negeri, dosen, pedagang, hingga pengusaha restoran halal. Dalam banyak kasus, identitas keislaman tidak menjadi hambatan administratif, selama praktiknya tidak melampaui batas regulasi yang ditetapkan.

 

Islam yang Beradaptasi

Pelajaran paling mencolok dari Xining adalah kemampuan adaptasi komunitas Hui. Islam di sini tidak tampil dalam simbolisme berlebihan. Ia hadir dalam kesederhanaan: label halal di restoran, perempuan berkerudung lembut tanpa mencolok, lelaki berpeci putih berjalan di trotoar modern. Simbol-simbol itu ada, namun menyatu dalam lanskap kota tanpa konfrontasi.

Arsitektur masjid pun mencerminkan adaptasi itu. Beberapa bangunan memadukan atap lengkung khas Tiongkok dengan elemen kubah yang lebih sederhana. Renovasi mengikuti kebijakan tata kota, tetapi ruang salat tetap dipenuhi jamaah lima waktu. Bentuk boleh berubah, fungsi spiritual tetap berjalan.

Dalam percakapan dengan generasi muda Hui, terlihat bagaimana mereka memaknai identitas secara kontekstual. Mereka belajar sains dan teknologi, fasih menggunakan aplikasi digital, dan bercita-cita global. Namun di rumah, mereka tetap menjaga tradisi makan halal dan menghadiri pengajian. Islam tidak dipahami sebagai perlawanan ideologi, melainkan sebagai fondasi moral pribadi.

 

Harmoni, Stabilitas, dan Batas-Batas Sunyi

Tiongkok menempatkan stabilitas sosial sebagai prioritas utama. Dalam kerangka itu, setiap ekspresi publik—termasuk agama—didorong untuk tidak menimbulkan gesekan. Bagi komunitas Hui di Xining, harmoni menjadi kata kunci. Mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa keberlanjutan komunitas bergantung pada kemampuan hidup berdampingan secara damai.

Refleksi dari sudut-sudut kota Xining menunjukkan bahwa Islam di sini bergerak dalam ruang yang terdefinisi jelas. Ia tidak sepenuhnya bebas tanpa regulasi, tetapi juga tidak lenyap. Ia bertahan melalui keseharian: doa yang lirih, usaha kecil keluarga, pendidikan anak-anak, dan solidaritas komunitas.

 

Sebuah Pelajaran Ketahanan

Memahami Islam di Xining dalam konteks komunisme Tiongkok bukanlah soal membandingkan sistem politik, melainkan membaca bagaimana sebuah komunitas minoritas merawat identitasnya dalam kerangka negara yang kuat. Hui mengajarkan tentang keluwesan—bahwa iman dapat tetap hidup tanpa selalu tampil konfrontatif; bahwa keberadaan bisa dijaga melalui disiplin, pendidikan, dan ekonomi.

Di bawah langit Qinghai yang luas, ketika azan magrib mengalun dan lampu-lampu kota menyala, terasa bahwa Islam di Xining adalah kisah tentang ketahanan yang sunyi. Ia bukan headline besar, bukan pula narasi heroik penuh pertentangan. Ia adalah cerita tentang keseharian—tentang bagaimana keyakinan berakar dalam jiwa, meski tumbuh di tanah dengan ideologi berbeda.

Di setiap sudut kota, dari pasar malam hingga halaman masjid, dari kantor pemerintahan hingga ruang keluarga sederhana, komunitas Hui memberi pelajaran: bahwa identitas dapat dijaga melalui keseimbangan; bahwa iman dan kewargaan tidak selalu harus berhadap-hadapan; dan bahwa dalam dunia yang terus berubah, yang paling bertahan sering kali adalah yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan inti dirinya. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts