DEAL OLAHRAGA – SUMATERA | Dari ujung utara Aceh hingga selatan Lampung, rangkaian Pegunungan Bukit Barisan membentang seperti tulang punggung raksasa yang menopang Pulau Sumatera. Ia berdiri jauh sebelum kota-kota tumbuh, sebelum sungai-sungai diberi nama, dan sebelum manusia menandai batas wilayah. Namun hari ini, Bukit Barisan kembali menjadi sorotan—bukan karena keindahannya, melainkan karena perannya yang kian berat dalam menahan banjir dan bencana yang silih berganti.
Secara geografis, Bukit Barisan berfungsi sebagai daerah tangkapan air utama. Lereng-lerengnya menyerap hujan, menyimpan air tanah, lalu mengalirkannya perlahan ke sungai-sungai besar yang menghidupi dataran rendah Sumatera. Dalam kondisi alami, pegunungan ini adalah penyeimbang—menjaga agar air tidak turun sekaligus, tidak berubah menjadi amarah.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, banjir bandang dan longsor semakin sering terjadi. Di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Bengkulu, hujan deras tak lagi sekadar membawa air, tetapi juga lumpur, batu, dan kayu yang meluncur cepat dari hulu. Bukit Barisan seolah menanggung beban berlapis: perubahan iklim yang memicu hujan ekstrem, serta tekanan aktivitas manusia yang menggerus daya tahannya.
Di lapangan, bukit-bukit yang dulunya hijau kini di beberapa titik tampak terbuka. Alih fungsi hutan, pembukaan lahan, dan aktivitas ekstraktif mengubah wajah lereng. Tanah kehilangan pegangan, akar tak lagi cukup kuat menahan curah hujan yang datang beruntun. Ketika hujan turun berjam-jam, air tak sempat diserap. Ia memilih jalan tercepat—turun, menghantam, dan merusak.
Bagi masyarakat yang tinggal di kaki Bukit Barisan, pegunungan ini adalah sumber hidup sekaligus sumber kecemasan. Dari sanalah mata air mengalir, ladang bergantung, dan udara sejuk bertahan. Namun dari sanalah pula ancaman datang ketika alam kehilangan keseimbangannya. Setiap hujan panjang menghidupkan ingatan kolektif: tentang banjir yang datang tiba-tiba, tentang longsor yang merenggut rumah dan nyawa.
Para ahli lingkungan mencatat, Bukit Barisan sejatinya masih memiliki kemampuan besar untuk menahan bencana, jika fungsinya dijaga. Hutan pegunungan, daerah resapan, dan alur sungai alami adalah sistem pertahanan yang terbukti efektif. Ketika sistem ini utuh, bencana dapat ditekan. Ketika ia rusak, dampaknya menjalar hingga ratusan kilometer ke hilir.
Pemerintah daerah dan pusat mulai kembali menoleh ke Bukit Barisan sebagai kunci mitigasi bencana Sumatera. Program rehabilitasi hutan, penataan ruang berbasis risiko, dan perlindungan kawasan lindung menjadi bagian dari upaya jangka panjang. Namun kebijakan saja tidak cukup. Bukit Barisan bukan sekadar peta dan garis kontur; ia adalah ruang hidup yang memerlukan komitmen bersama.
Di beberapa wilayah, masyarakat adat dan desa-desa penyangga menunjukkan bahwa harmoni masih mungkin dijaga. Dengan kearifan lokal, mereka merawat hutan, menjaga mata air, dan membatasi pembukaan lahan. Di tempat-tempat inilah Bukit Barisan masih berfungsi sebagaimana mestinya—tenang, kokoh, dan memberi.
Bukit Barisan tidak pernah meminta untuk disebut pahlawan. Ia hanya menjalankan tugas alamiahnya: menahan air, menjaga tanah, dan menopang kehidupan. Namun ketika beban itu melampaui batas, ia memberi tanda—melalui banjir dan longsor—bahwa keseimbangan telah terganggu.
Melihat Bukit Barisan hari ini berarti melihat cermin masa depan Sumatera. Apakah ia akan tetap menjadi penjaga sunyi yang kokoh, atau berubah menjadi saksi bisu dari bencana yang berulang. Jawabannya tidak sepenuhnya berada di tangan alam, melainkan pada cara manusia memperlakukan pegunungan yang selama ini setia menopang pulau ini. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








