DEAL OLAHRAGA | Lubukpakam — Di tengah kelelahan fisik dan mental akibat rangkaian bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatra Utara, termasuk Pandan–Sibolga, ada cara sederhana namun sangat manusiawi untuk memulihkan tubuh: kembali pada kehangatan kuliner tradisional. Di Lubukpakam, Kabupaten Deli Serdang, semangkuk tekwan Palembang menjadi pelipur lelah bagi para relawan, pekerja lapangan, dan warga yang baru saja kembali dari daerah terdampak.
Tekwan—hidangan khas Palembang berbahan dasar ikan, disajikan dengan kuah bening gurih, jamur kuping, bengkoang, dan bihun halus—menjadi pilihan yang menenangkan selepas berhari-hari menghadapi medan berat. Cuaca lembap pascabencana, tubuh yang letih, serta tensi psikologis yang menurun, membuat banyak orang mencari sesuatu yang hangat, ringan, namun cukup bergizi. Di sinilah tekwan menemukan relevansinya sebagai “penguat jiwa”.
Contents
Kelelahan Tubuh Pascabencana dan Perlu Pemulihan Cepat
Petugas lapangan dan relawan yang turun langsung ke lokasi banjir dan longsor menghadapi kondisi ekstrem: lumpur tebal, jalur putus, hujan panjang, serta jam kerja yang tidak menentu. “Begitu sampai Lubukpakam, rasanya ingin duduk dan makan sesuatu yang panas,” ujar salah satu anggota rombongan yang baru kembali dari Pandan–Sibolga. Tekwan, dengan kuah panas dan aroma lembutnya, memberikan efek relaksasi yang sulit digantikan.
Gizi dari Tradisi Kuliner Palembang yang Jadi Obat Alami
Ikan yang diolah menjadi adonan tekwan mengandung protein tinggi yang penting untuk pemulihan otot setelah kelelahan fisik. Sementara kuah bening dengan bawang putih dan merica membantu menghangatkan tubuh, memperbaiki sistem pernapasan, serta menurunkan ketegangan. Jamur kuping kaya antioksidan dan serat, cocok untuk tubuh yang membutuhkan stabilisasi pasca stres.
Lubukpakam sebagai Persinggahan Pemulihan Emosional
Sejumlah kedai di Lubukpakam kini menjadi tempat istirahat favorit bagi para rombongan dari wilayah Tapanuli dan pesisir barat. Di meja-meja kedai tekwan, terdengar cerita tentang perjalanan dramatis melewati Barus, lembah Siboru-boru, hingga Humbang Hasundutan. Ada yang bercerita tentang jalan putus, ada pula yang masih mengingat aroma lumpur dan suara deras sungai meluap. Tekwan menjadi jembatan penghubung antara trauma dan ketenangan.
Kuliner sebagai Sarana Rehabilitasi Psikologis
Psikolog lokal menyebutkan bahwa makanan hangat dapat memberikan “grounding effect” bagi tubuh dan pikiran. Setelah menyaksikan kerusakan besar di Pandan–Sibolga, banyak relawan mengalami kelelahan emosional. Menikmati makanan bersama dalam suasana aman membantu mengurangi ketegangan dan memulihkan stabilitas emosi.
Kebangkitan Bisnis Kuliner Lokal Pasca Bencana Regional
Kedatangan rombongan dari daerah terdampak juga menggerakkan ekonomi pelaku UMKM di Lubukpakam. Penjual tekwan merasakan peningkatan pelanggan, terutama pada jam malam ketika para petugas baru selesai perjalanan panjang. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal fisik, tetapi juga penguatan ekonomi lokal dan pelaku usaha kecil.
Di tengah derita akibat banjir dan tanah longsor, Lubukpakam menawarkan tempat sejenak untuk bernapas kembali. Melalui semangkuk tekwan Palembang yang hangat, tubuh menemukan energi baru, pikiran mendapatkan ketenangan, dan hati diberi ruang untuk memulihkan diri. Dalam perjalanan panjang menghadapi bencana, kadang yang dibutuhkan bukan hanya strategi besar, tetapi momen sederhana yang menguatkan—seperti menyeruput kuah tekwan di malam yang tenang. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








