DEAL RILEKS | Palembang — Tak banyak makanan tradisional Indonesia yang menghadirkan perdebatan hangat seperti pempek. Selama ini, cuko selalu dianggap pasangan tak terpisahkan dari hidangan khas Sumatera Selatan tersebut. Namun di sejumlah sudut Palembang, sebuah tren lama kembali mencuri perhatian: menikmati pempek adaan tanpa cuko, langsung dari penggorengan, hangat, gurih, dan penuh aroma rempah.
Di balik langkah sederhana ini, tersimpan pengalaman rasa yang justru memperlihatkan jati diri pempek adaan sebagai salah satu varian paling otentik dan “jujur” dalam keluarga pempek.
Contents
Aroma Ikan yang Melepas Karakter Asli
Saat dikunyah tanpa cuko, pempek adaan memperlihatkan teksturnya dengan lebih gamblang. Gigitan pertama langsung menampilkan paduan ikan giling yang padat, tepung yang tidak berlebihan, serta aroma bawang yang lembut. Tanpa guyuran cuko yang asam-pedas, rasa ikan muncul dominan, memberi sensasi natural yang sering tertutup oleh bumbu kuat.
Para pedagang tradisional menyebut momen ini sebagai “makan rasa dasar”—sebuah cara merasakan kualitas pempek sesungguhnya. Jika adonan ikan baik, pempek adaan akan terasa manis alami, lembut, dan gurih tanpa harus ditopang cuko.
Tekstur Renyah-Lembut yang Lebih Nyaring
Ketika masih hangat, bagian luar pempek adaan memberi bunyi renyah halus saat digigit, sementara bagian dalamnya tetap lembut dan kenyal. Tanpa cuko, kontras tekstur ini terasa lebih hidup. Setiap kunyahan membawa minyak bawang yang meresap, melepaskan sensasi gurih yang membalut lidah.
Para penikmat kuliner Palembang menyebut pengalaman ini sebagai “rasa yang dipertegas”—seperti mendengar musik tanpa alat pengiring, sehingga tiap instrumen terdengar lebih jelas.
Rempah yang Biasanya Tersembunyi Kini Muncul
Pempek adaan umumnya diberi sentuhan bawang putih, merica, dan kadang sedikit santan. Dalam kombinasi dengan minyak panas dan ikan segar, rempah-rempah ini menghasilkan aroma khas yang hangat. Saat tidak dimakan dengan cuko, aroma ini terasa penuh dan kompleks, menghadirkan karakter gurih-rempah yang “menyapa” sejak gigitan pertama.
Lidah dapat membedakan apakah merica yang digunakan baru digiling, seberapa segar ikan yang dicampur, hingga keseimbangan garam dan bawangnya—detail yang sulit ditangkap ketika cuko hadir sebagai pemeran utama.
Kembali ke Tradisi Rumah: Cara Lama yang Tidak Pernah Hilang
Bagi sebagian warga Palembang, menikmati pempek adaan tanpa cuko adalah kebiasaan turun-temurun. Pada pagi hari, ketika ibu-ibu menggoreng pempek untuk dagangan, anak-anak sering mencuri satu atau dua butir pempek adaan yang baru matang, memakannya begitu saja tanpa menunggu cuko disiapkan.
Tradisi “mencuri adaan panas” ini menjadi kenangan kolektif yang membentuk cara masyarakat lokal mencintai kuliner mereka. Dari sana pula lahir pemahaman bahwa cuko adalah pelengkap, tetapi bukan satu-satunya cara menikmati pempek.
Pelajaran Kuliner: Menghormati Bahan, Menghargai Rasa Asli
Fenomena menikmati pempek adaan tanpa cuko menawarkan perspektif baru bagi dunia kuliner: bahwa kadang, cara terbaik menghargai makanan adalah dengan kembali pada bentuk paling sederhana—tanpa bumbu berat, tanpa tambahan rasa kuat, hanya bahan berkualitas dan teknik memasak yang tepat.
Dalam konteks ini, pempek adaan menjadi representasi filosofi masakan Palembang yang mengedepankan kesegaran ikan sungai, ketepatan komposisi, serta kejujuran rasa. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








