Menyusuri Wajah Baru Stasiun Tanah Abang

Stasiun Tanah Abang kini tampil dengan wajah baru setelah proyek revitalisasi besar yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto / Dok : Deal Channel

DEAL RILEKS | Jakarta, November 2025 — Suara roda kereta berpadu dengan langkah cepat para komuter di pagi hari. Di antara gemuruh rel dan deru pengeras suara yang memanggil keberangkatan, tampak wajah-wajah penumpang yang penuh semangat — sebagian menatap takjub pada bangunan megah yang baru berdiri. Inilah Stasiun Tanah Abang Baru, ikon baru transportasi publik Jakarta yang baru saja diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto beberapa hari lalu.

Perjalanan menyusuri stasiun yang telah direvitalisasi ini bukan sekadar wisata arsitektur. Ia adalah pengalaman menyaksikan bagaimana sebuah ruang publik bertransformasi dari stasiun lama yang sempit dan padat menjadi pusat mobilitas perkotaan yang lebih manusiawi, efisien, dan penuh harapan.

Read More

 

Dari Simbol Kepadatan Menuju Gerbang Modernitas

Dulu, Tanah Abang identik dengan hiruk pikuk pedagang dan penumpang yang berdesakan di peron sempit. Stasiun ini adalah denyut utama KRL Jabodetabek — setiap hari, lebih dari 140 ribu orang melintas, membuatnya salah satu stasiun tersibuk di Asia Tenggara. Kini, dengan selesainya proyek revitalisasi besar yang dimulai sejak April 2023, wajah itu berubah total.

Bangunan baru seluas lebih dari 19.000 meter persegi berdiri gagah di atas lahan seluas 3 hektare. Desainnya futuristik namun tetap mengadopsi unsur tropis: atap melengkung besar dengan sistem ventilasi alami, pencahayaan yang lembut, serta area sirkulasi yang lapang. Enam jalur kereta dan empat peron kini siap melayani hingga 380 ribu penumpang per hari.

Bagi para penumpang lama, perubahan ini bukan hanya visual. “Dulu kami harus berebut naik, sekarang lebih tertib. Ada petunjuk arah yang jelas dan ruang tunggu yang nyaman,” ujar Siti Rahma, seorang pegawai swasta yang setiap hari berangkat kerja dari Rangkasbitung.

 

Jejak Kehadiran Presiden

Presiden Prabowo Subianto meresmikan stasiun ini pada Selasa, 4 November 2025, dengan cara yang sederhana namun bermakna. Ia tiba menggunakan KRL dari Stasiun Manggarai, meninjau fasilitas peron, berbincang dengan petugas, dan menyapa para penumpang yang menunggu keberangkatan.

Dalam pidatonya, Presiden menekankan bahwa pembangunan Stasiun Tanah Abang Baru bukan sekadar proyek fisik, tetapi bagian dari visi besar modernisasi sistem perkeretaapian nasional.

“Kita ingin rakyat Indonesia menikmati transportasi yang layak, efisien, dan membanggakan. Kereta bukan hanya moda transportasi, tapi simbol kemajuan bangsa,” ujar Presiden dalam sambutannya.

Presiden juga menegaskan komitmen pemerintah untuk menambah armada KRL baru dan memperluas jaringan transportasi perkotaan yang terintegrasi — mulai dari LRT, MRT, hingga moda transportasi hijau.

 

Menyusuri Ruang Baru Stasiun Tanah Abang: Lapang, Teratur, dan Ramah Pengguna

Memasuki area utama stasiun, pengunjung disambut oleh lobby luas dengan langit-langit tinggi. Papan informasi digital menggantikan sistem manual, menampilkan jadwal kedatangan dan keberangkatan secara real time. Di sisi timur, eskalator dan lift khusus penyandang disabilitas menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menghadirkan transportasi yang inklusif.

Di bagian tengah stasiun terdapat area publik baru — ruang tunggu berpendingin udara dengan fasilitas charging station, area komersial ringan, dan pojok UMKM yang menjajakan makanan khas Betawi.

“Sekarang lebih rapi dan bersih. Ada ruang tunggu yang nyaman, jadi tidak perlu berdiri lama-lama,” kata Ahmad Zulfikar, mahasiswa yang rutin naik KRL ke Depok.

 

Konektivitas dan Akses Kota

Proyek ini tidak berdiri sendiri. Revitalisasi Stasiun Tanah Abang menjadi bagian dari program Transit Oriented Development (TOD), yang menghubungkan sistem kereta dengan moda transportasi lain seperti TransJakarta, ojek listrik, dan jalur pejalan kaki yang langsung terhubung ke kawasan perdagangan Tanah Abang.

Pemerintah juga tengah merencanakan jembatan penyeberangan multilevel yang menghubungkan stasiun dengan blok pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara, sekaligus memperluas area pedestrian agar lebih ramah pejalan kaki.

Di sisi selatan stasiun, jalur khusus kendaraan umum dibangun untuk memudahkan penumpang berpindah moda tanpa harus menyeberang jalan raya yang padat. “Sekarang lebih tertib, tak ada lagi trotoar yang sesak oleh kendaraan parkir liar,” ujar seorang petugas Dishub yang berjaga di lokasi.

 

Antara Optimisme dan Catatan Tantangan

Meski banyak mendapat apresiasi, sejumlah pengamat transportasi menilai masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tantangan utama adalah penyesuaian alur penumpang di jam sibuk, serta integrasi penuh sistem tiket elektronik antar moda agar perjalanan menjadi lebih efisien.

Selain itu, kawasan sekitar stasiun — yang masih dipadati pedagang kaki lima — memerlukan penataan lanjutan agar tidak menimbulkan kemacetan dan konflik ruang publik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berjanji akan menata ulang area tersebut dengan konsep zona ramah pejalan kaki dan ekonomi rakyat.

 

Stasiun Baru, Harapan Baru

Ketika malam turun, Stasiun Tanah Abang tampak gemerlap dengan cahaya lampu LED yang memantul di dinding kaca. Di tengah arus ribuan penumpang yang datang dan pergi, terasa semangat baru yang lahir dari proyek ini — semangat untuk membangun Jakarta yang lebih tertib, manusiawi, dan terintegrasi.

Bagi banyak warga, kehadiran stasiun baru ini bukan hanya tentang kenyamanan, tetapi juga kepercayaan bahwa perubahan nyata bisa terjadi di jantung kota.

Seorang ibu muda, Nurlela, yang menuntun anaknya menuju pintu keluar, tersenyum sambil berkata pelan,

“Dulu Tanah Abang itu macet dan sumpek. Sekarang rasanya seperti di negara maju. Semoga begini terus.”

Perjalanan singkat di Stasiun Tanah Abang Baru pasca peresmian memberi gambaran jelas tentang arah baru transportasi Indonesia: modern, efisien, dan berpihak pada rakyat. Di setiap langkah penumpang yang melintasi peron bersih dan ruang tunggu berpendingin, terselip narasi besar tentang transformasi — bukan hanya infrastruktur, tapi juga budaya mobilitas perkotaan yang semakin matang.

Stasiun Tanah Abang kini bukan lagi sekadar tempat naik-turun penumpang, melainkan simbol kebangkitan wajah baru Jakarta — kota yang belajar berdiri tegak di antara rel, sejarah, dan harapan masa depan. (ath)

Related posts