DEAL NASIONAL | Jakarta — Suasana tenang di SMA Negeri 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, mendadak berubah menjadi kepanikan besar pada Jumat (7/11/2025) siang. Sekitar pukul 12.15 WIB, sebuah ledakan keras terdengar di area sekolah yang berlokasi dalam Kompleks Komando Daerah Maritim TNI Angkatan Laut (Kodamar)
Menurut keterangan Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI Tunggul, ledakan benar terjadi di lingkungan sekolah yang memang berada di dalam kawasan milik TNI AL. “Lokasinya masih di dalam kompleks Kodamar, memang sekolah tersebut dikelola oleh Dinas Pendidikan tapi berada di area milik TNI AL,” ujarnya dikutip dari Antara News.
Media lain menyebutkan sebanyak 54 orang menjadi korban, sebagian besar mengalami luka bakar dan gangguan pendengaran. Mereka segera dilarikan ke RS Islam Cempaka Putih, RS Yarsi, dan Puskesmas Kelapa Gading.
TNI AL bersama Polri menurunkan tim gabungan, termasuk tim penjinak bom (Jibom) Brimob, untuk melakukan penyisiran dan olah tempat kejadian perkara (TKP). Pemerintah meminta publik tidak berspekulasi soal motif hingga hasil penyelidikan final diumumkan. “Belum ada indikasi teror, dan belum ada kesimpulan pasti soal motifnya,” ujar Wakil Menko Polhukam Lodewijk F. Paulus seperti dikutip dari TVOneNews.
Contents
Latar Belakang SMA Negeri 72: Sekolah Berakreditasi A di Lingkungan Militer
SMA Negeri 72 Jakarta dikenal sebagai salah satu sekolah unggulan di kawasan Jakarta Utara. Berdiri di Jl. Prihatin, Kompleks Kodamar TNI AL Kelapa Gading Barat, sekolah ini memiliki akreditasi A sejak 2021 dan dikenal berprestasi di bidang akademik maupun non-akademik.
Visi sekolah ini ialah “Unggul dalam prestasi, berbasis IMTAQ dan berbudi pekerti, serta berwawasan global dan lingkungan hidup.”
Fasilitas di SMA 72 terbilang lengkap—mulai dari laboratorium, perpustakaan, lapangan olahraga, hingga masjid di lingkungan sekolah. Karena berada di kawasan militer, aktivitas sekolah berlangsung dalam lingkungan yang relatif tertutup dan aman.
Namun, peristiwa ledakan ini menimbulkan pertanyaan publik: bagaimana sebuah insiden besar bisa terjadi di sekolah yang berada di kawasan militer dengan sistem pengamanan ketat?
Pengamat pendidikan menilai hal ini menjadi alarm bagi evaluasi sistem keamanan sekolah, termasuk deteksi dini terhadap potensi ancaman internal.
Beberapa laporan juga menyebutkan bahwa empat korban merupakan anak prajurit TNI AL, memperlihatkan betapa dekatnya hubungan antara sekolah ini dan komunitas militer di sekitarnya.
Kesaksian Saksi Mata: “Kami Sedang Salat Jumat, Tiba-tiba Ada Tiga Ledakan”
Keterangan dari beberapa saksi mata memperkuat gambaran suasana mencekam saat kejadian. Salah satu saksi, Maman, penjaga kantin sekolah, mengatakan ledakan terjadi saat jemaah sedang menunaikan salat Jumat di masjid sekolah.
“Saya lagi di saf keempat. Tiba-tiba suara ledakan keras sekali, sampai kuping berdenging. Banyak yang berdarah, ada yang kepalanya bocor, ada yang kena pinggang, tangan juga luka. Anak-anak pada panik, langsung lari ke luar,” kata Maman dikutip dari Suara.com.
Saksi lain, Totong, yang berada di saf depan, menyebut dirinya mendengar tiga kali ledakan berurutan dari arah berbeda.
“Ledakan pertama kayak dari belakang musala, terus satu lagi di depan pintu. Nggak barengan, tapi cepat banget. Setelah itu semua bubar, lari keluar karena takut masih ada ledakan lain,” ujarnya kepada Liputan6.
Dari keterangan beberapa guru, diduga kuat sumber ledakan berasal dari area musala sekolah, tempat sebagian siswa dan guru menunaikan ibadah Jumat. Polisi kini tengah menelusuri dugaan pelaku yang disebut-sebut merupakan siswa kelas 12.
Saksi Maman menambahkan, “Katanya pelaku itu anak sekolah juga, orangnya pendiam.” Hal ini sejalan dengan laporan awal dari Kumparan yang menyebut bahwa pelaku memiliki kepribadian tertutup dan pernah menjadi korban perundungan di sekolah.
Meski dugaan ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak kepolisian, banyak pihak menyerukan pentingnya pemeriksaan latar belakang psikologis siswa dan pencegahan kasus bullying di lingkungan sekolah.
Penyelidikan dan Dampak Psikologis
Hingga kini, TNI AL dan Polri masih menyelidiki sumber bahan peledak. Tim penjinak bom telah mengamankan beberapa barang bukti dari lokasi, termasuk benda menyerupai senjata mainan dan tabung kecil yang diduga berisi bahan kimia. Namun pihak berwenang menegaskan belum dapat memastikan keterkaitan benda itu dengan motif pelaku.
Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto menyebut penyelidikan melibatkan Laboratorium Forensik Mabes Polri. “Kita tunggu hasil labfor. Semua kemungkinan kita buka, termasuk unsur kelalaian, eksperimen, atau hal lain,” ujarnya dalam wawancara dengan Republika.
Selain penegakan hukum, dukungan psikologis bagi korban dan siswa lainnya menjadi prioritas utama. Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengerahkan tim konselor untuk melakukan trauma healing di sekolah.
Psikolog pendidikan UIN Jakarta, Riris Ananda, mengatakan, “Peristiwa seperti ini meninggalkan trauma jangka panjang. Sekolah harus memastikan siswa mendapat pendampingan dan pemulihan emosi, bukan hanya fisik.”
Evaluasi dan Harapan
Tragedi di SMA Negeri 72 Kelapa Gading ini bukan hanya soal ledakan, tapi juga cermin kompleksitas persoalan keamanan, kesehatan mental, dan tata kelola sekolah di Indonesia. Pemerintah diharapkan segera melakukan audit keselamatan di sekolah, terutama yang berada di lingkungan sensitif seperti kawasan militer.
Dengan 54 korban luka dan proses penyelidikan yang masih berjalan, publik menanti kejelasan penyebab dan tanggung jawab dari insiden ini. Namun satu hal pasti: peristiwa ini menjadi pelajaran besar bahwa keamanan dan kesejahteraan psikologis siswa harus menjadi prioritas utama dunia pendidikan. (wam)








