DEAL RILEKS | Teheran, Iran — Di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang tak pernah benar-benar tidur, satu pemandangan masih setia menghiasi jalanan: mobil-mobil berwarna putih tua yang tampak kontras di antara gedung-gedung modern, mural revolusi, dan menara komunikasi yang menjulang. Di mata turis asing, mungkin kendaraan itu tampak biasa — tapi bagi warga Iran, deretan mobil berwarna putih kusam itu adalah potret kehidupan urban yang tidak lekang oleh waktu.
Contents
Pemandangan Harian: Putih Kusam di Antara Debu dan Asap
Setiap pagi, dari kawasan Enghelab Square hingga Azadi Boulevard, mobil-mobil berwarna putih tua berderet di lampu merah, berdesakan bersama taksi kuning dan bus kota biru muda. Suaranya bising, mesinnya kasar, namun mereka tetap melaju — membawa pegawai, mahasiswa, pedagang, dan keluarga kecil menuju keseharian yang tak berubah.
Sebagian besar kendaraan itu adalah Peykan, Samand, atau Saipa, mobil produksi lokal yang sudah menjadi bagian dari identitas kota sejak dekade 1970-an. Di banyak titik, warna putihnya sudah pudar — sebagian karena usia, sebagian karena polusi yang menutupi seluruh kota.
“Mobil putih itu seperti nafas kota ini — tidak cantik, tapi nyata,” ujar Farhad Etemadi, sopir taksi berusia 56 tahun yang sudah dua dekade membawa penumpang dengan Peykan tuanya. “Kalau semua mobil baru dan mengilap, Teheran bukan Teheran lagi.”
Jejak Sejarah di Balik Warna Putih
Warna putih pada mobil-mobil di Iran bukan sekadar pilihan estetika. Ia adalah simbol efisiensi dan keterjangkauan, warisan dari masa embargo ekonomi dan keterbatasan produksi otomotif.
Sejak awal 1980-an, ketika Iran mulai menghadapi sanksi internasional, industri otomotif dalam negeri seperti Iran Khodro dan Saipa terpaksa menyesuaikan diri dengan bahan baku yang terbatas. Cat putih menjadi warna dominan karena lebih mudah diproduksi dan tidak memerlukan pigmen impor yang mahal.
“Putih adalah warna ekonomi,” jelas Dr. Parviz Mahdavi, peneliti industri otomotif Iran di Sharif University of Technology. “Ia tidak memantulkan panas berlebihan, lebih murah, dan tahan lama di iklim Teheran yang kering. Karena itulah, mobil putih menjadi warna rakyat.”
Namun, seiring waktu, warna itu berubah makna. Ia bukan lagi sekadar simbol efisiensi, melainkan ikon nostalgia dan ketahanan. Mobil-mobil putih tua kini menjadi representasi “kehidupan yang terus berjalan” meski kota dan politiknya terus berubah.
Wajah Sosial dari Jalanan Teheran
Jalanan Teheran mencerminkan lapisan sosial yang berlapis. Mobil putih tua — sering kali berdebu dan diselotip di sana-sini — menjadi kendaraan kelas pekerja, mahasiswa, dan keluarga kecil. Di sisi lain, SUV dan sedan hitam keluaran baru terlihat di kawasan utara kota, seperti Tajrish atau Niavaran, tempat kelas menengah atas tinggal.
Namun yang menarik, mobil putih tua masih mendominasi lebih dari 60% kendaraan pribadi di Teheran, menurut data Kementerian Transportasi Iran tahun 2024.
Di banyak kasus, kendaraan-kendaraan itu bukan hanya alat transportasi, tetapi juga ruang hidup tambahan. Sopir-sopir mengubahnya menjadi taksi pribadi, tempat istirahat, bahkan ruang kerja kecil dengan sambungan internet portabel.
“Kadang saya makan siang di dalam mobil ini, kadang saya tidur di sini,” kata Reza Shahrabi, pengemudi ojek daring lokal (Snapp). “Bagi saya, mobil putih ini bukan sekadar kendaraan — ini kantor, rumah kedua, dan teman di jalan.”
Antara Modernisasi dan Kenangan
Pemerintah Iran dalam beberapa tahun terakhir berupaya menggantikan mobil-mobil tua dengan model baru yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Namun, prosesnya berjalan lambat. Biaya tinggi, inflasi, dan sanksi internasional membuat masyarakat sulit beralih.
Di sisi lain, sebagian warga justru menolak menghapus keberadaan mobil tua tersebut. Ada sentimen romantis terhadap bentuknya yang sederhana dan kehadirannya yang akrab.
“Setiap Peykan punya cerita,” kata Laleh Rahimi, fotografer muda yang mengabadikan kehidupan jalanan Teheran. “Mobil putih tua adalah kenangan kolektif tentang Iran yang dulu — hangat, sederhana, dan penuh harapan meski keras.”
Laleh kini menampilkan foto-fotonya dalam pameran bertajuk White Roads of Tehran, menyoroti bagaimana warna putih menjadi metafora bagi “ketenangan dalam kekacauan.”
Simbol Ekonomi dan Realitas Kota
Mobil putih tua juga menjadi indikator kondisi ekonomi Iran yang fluktuatif. Di tengah inflasi tinggi dan nilai rial yang terus melemah, kendaraan lama dianggap aset yang stabil. Banyak keluarga memilih mempertahankan mobil tua mereka ketimbang membeli yang baru dengan harga melambung.
Data resmi menunjukkan bahwa usia rata-rata mobil pribadi di Teheran kini mencapai 17 tahun. Sebagian kendaraan bahkan masih menggunakan mesin karburator, teknologi yang di banyak negara telah punah.
“Selama mobil masih bisa jalan, ia tetap berharga,” ujar Majid Soltani, teknisi bengkel di kawasan Karaj Road. “Orang di sini tidak bicara soal gaya, tapi fungsi. Mobil tua yang masih hidup adalah bukti daya tahan.”
Box Analisis: Warna, Ekonomi, dan Identitas Jalanan Iran
| Aspek | Fakta | Makna Sosial |
| Dominasi Warna Putih | 6 dari 10 mobil di Teheran berwarna putih. | Warna efisien dan simbol rakyat kelas pekerja. |
| Usia Kendaraan | Rata-rata 17 tahun (2024). | Cerminan daya tahan ekonomi rakyat di tengah sanksi. |
| Produksi Lokal | Iran Khodro dan Saipa tetap jadi pemain utama. | Ketergantungan pada industri nasional memperkuat identitas lokal. |
| Makna Budaya | Putih di Iran melambangkan kesucian dan ketulusan. | Mengandung nilai spiritual dalam keseharian urban. |
Denyut Waktu yang Berjalan Pelan
Ketika malam tiba dan lampu kota mulai menyala, mobil-mobil putih tua itu tetap wara-wiri — menembus jalanan sempit di distrik Valiasr atau berputar di sekitar Menara Azadi yang megah. Mereka melambat di tengah macet, menyalakan radio, dan terus melaju, seakan menjadi ritme kehidupan kota yang menolak berhenti.
Mereka adalah saksi perubahan politik, kenaikan harga bahan bakar, hingga perayaan nasional. Dan di balik mesin tuanya, tersimpan semangat khas warga Teheran: tabah, keras kepala, tapi penuh daya juang.
“Orang bisa membangun gedung tinggi, mengganti mobil dengan listrik, tapi jangan hilangkan mobil putih tua,” ucap Farhad, sang sopir veteran tadi, menatap mobilnya dengan bangga. “Selama dia ada di jalan, Teheran masih punya jiwa.”
Menara Azadi mungkin berdiri tegak sebagai simbol kebebasan, tetapi di bawahnya, di jalan-jalan yang ramai dan berdebu, mobil-mobil putih tua adalah kehidupan nyata — lambang keuletan rakyat Iran menghadapi waktu yang tak pernah berhenti. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








