DEAL RILEKS | BANYUASIN — Dari kejauhan, deretan atap seng dan pepohonan palem menandai keberadaan Pondok Pesantren Bahrul Ulum di Desa Muliasari. Mendekat, yang tampak bukan sekadar bangunan—melainkan ritme: santri bergegas ke pengajian pagi, suara guru melantunkan pengantar kitab, dan aktivitas di lahan pertanian yang menjadi nadi ekonomi pesantren. Bahrul Ulum bukan pesantren besar yang tampil gemerlap di media; ia lebih menyerupai laboratorium lokal yang mencoba merangkai pendidikan agama, keterampilan vokasi, dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Berikut liputan mendalam tentang wajah, aktivitas, harapan, dan tantangan yang membentuk karakter pesantren ini.
Contents
- 1 Dari Kitab ke Kebun: Dualitas Pendidikan di Bahrul Ulum
- 2 Lahan Binaaan: Pertanian sebagai Sekolah Kehidupan
- 3 Santripreneur: Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan
- 4 Hubungan dengan Komunitas Lokal: Simbiosis yang Nyata
- 5 Hambatan: Infrastruktur, Akses Pasar, dan Pendanaan
- 6 Pendidikan yang Inklusif: Perempuan dan Santri Putri
- 7 Menyambung ke Masa Depan: Rekomendasi untuk Keberlanjutan
- 8 Pesantren sebagai Agen Ganda
Dari Kitab ke Kebun: Dualitas Pendidikan di Bahrul Ulum
Tradisi pengajian masih menjadi jantung kegiatan Bahrul Ulum. Pagernya menyimpan rak-rak kitab kuning yang menjadi rujukan bagi santri dalam kajian fikih, tafsir, dan tasawuf. Namun, langkah-langkah mereka di asrama tidak berujung pada pengulangan yang konservatif. Di sela-sela rutinitas keagamaan, pesantren mengorganisir kelas komputer dasar, kursus kewirausahaan, dan pelatihan teknik pertanian modern untuk santri laki-laki dan perempuan yang menunjukkan minat.
Kiai Ahmad Dahlan, pengasuh pesantren yang dikenal ramah namun tegas, menjelaskan visi institusi: “Kita ingin melahirkan alumni yang kuat akhlak dan mampu menafsirkan ilmu agama ke dalam kehidupan ekonomi. Kitab penting, tapi hidup harus mandiri,” katanya saat ditemui di ruang tamu pesantren. Pendekatan ini menempatkan Bahrul Ulum dalam aliran pesantren yang mencoba menyelaraskan tradisi dan kebutuhan zaman—mengajarkan shalat dan hadits sambil membuka ruang praktik bercocok tanam dan manajemen usaha sederhana.
Lahan Binaaan: Pertanian sebagai Sekolah Kehidupan
Beberapa hektar lahan yang dimiliki pesantren menjadi tempat belajar yang konkret. Jagung, sayuran musiman, dan kelompok ternak kecil menjadi sumber penghasilan sekaligus tempat praktik bagi santri. Suryadi, petani yang juga menjadi instruktur praktik lapangan, menunjuk barisan jagung yang baru dipanen. “Di sini santri belajar mulai dari menanam, merawat, sampai memasarkan. Mereka paham siklus usaha, bukan hanya teori,” ujarnya.
Model “belajar sambil berkarya” ini memberi keuntungan ganda: menambah pemasukan pesantren dan memberi keterampilan praktis bagi lulusan yang ingin membuka usaha mikro atau membantu usaha keluarga di kampung. Unit pengolahan hasil sederhana—seperti pengeringan ikan kecil, pengemasan hasil tani, dan produksi pakan ternak—mulai dirintis untuk meningkatkan nilai tambah produk.
Santripreneur: Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan
Istilah “santripreneur” mungkin terdengar klise, namun para pengelola Bahrul Ulum serius menanamkan nilai-nilai itu. Kelas kewirausahaan membuka ruang bagi santri untuk merancang rencana usaha sederhana: dari produksi keripik berbahan baku lokal hingga pembuatan sabun organik berbasis minyak kelapa. Di salah satu kamar yang difungsikan sebagai studio kecil, sekelompok santri perempuan mempelajari teknik fotografi produk dan pemasaran lewat jejaring sosial—keterampilan yang sebelumnya tak lazim dalam tradisi pesantren.
Fauzi, santri kelas akhir yang bercita-cita membuka usaha kuliner halal, mengatakan: “Dulu saya hanya tahu ngaji. Sekarang saya belajar manajemen toko online dan akuntansi dasar. Kalau lulus, saya ingin buka usaha sendiri dan mempekerjakan teman-teman.” Semangat seperti ini menegaskan perubahan mindset: pesantren sebagai tempat pembentukan moral sekaligus pencipta kesempatan ekonomi.
Hubungan dengan Komunitas Lokal: Simbiosis yang Nyata
Pesantren tidak berdiri terisolasi. Hubungan Bahrul Ulum dengan warga desa dan pasar lokal bersifat simbiotik. Petani lokal memanfaatkan fasilitas alat panen yang disediakan pesantren; ibu-ibu PKK bekerja sama dalam produksi olahan pangan; dan pasar tradisional menerima pasokan hasil tani pesantren. Hal ini menciptakan ekosistem mikroekonomi yang saling menopang.
Bupati setempat, Askolani, dalam kunjungan singkatnya, menilai pesantren sebagai mitra strategis dalam peningkatan kesejahteraan pedesaan. “Pesantren seperti Bahrul Ulum bisa menjadi pusat pemberdayaan ekonomi lokal. Dengan pembinaan yang tepat, mereka akan memperluas dampak sosial-ekonomi di desa-desa sekitar,” ujarnya.
Hambatan: Infrastruktur, Akses Pasar, dan Pendanaan
Meski penuh inisiatif, Bahrul Ulum menghadapi tantangan struktural. Akses internet belum merata—menghambat pembelajaran daring dan pemasaran online. Kualitas jalan ke desa terkadang buruk, menyulitkan distribusi produk. Selain itu, ketersediaan pelatih IT atau agritech yang bisa mendampingi secara berkelanjutan masih minim. Bantuan berupa laptop dan alat pertanian yang diterima beberapa kali bersifat episodik; tanpa program pendampingan jangka panjang, efeknya rentan memudar.
Pendanaan juga menjadi isu. Usaha kecil pesantren sering bergantung pada sumbangan dan hasil panen musiman. Untuk berkembang, diperlukan akses ke modal usaha mikro yang terjangkau serta kemitraan dengan pasar yang lebih luas—baik pemerintah daerah maupun sektor swasta.
Pendidikan yang Inklusif: Perempuan dan Santri Putri
Bahrul Ulum juga membuka ruang bagi santri perempuan—meski komposisi dan peran mereka masih dipengaruhi tradisi lokal. Di pesantren ini, santri putri belajar kajian agama dengan intens, tetapi juga diberi kursus keterampilan: kerajinan tangan, pengolahan pangan, dan pemasaran skala kecil. Upaya ini memberi mereka alternatif selain peran domestik tradisional, membuka opsi berkontribusi secara ekonomi pada keluarganya.
Namun, peluang bagi perempuan untuk mengambil peran teknis di bidang pertanian atau manajemen masih perlu diperluasan melalui pelatihan yang sensitif gender dan akses modal yang setara.
Menyambung ke Masa Depan: Rekomendasi untuk Keberlanjutan
Berdasarkan pengamatan di lapangan, beberapa langkah dapat memperkuat peran Bahrul Ulum sebagai agen perubahan lokal:
- Program pendampingan jangka panjang: kerjasama dengan perguruan tinggi pertanian atau lembaga pelatihan IT untuk transfer keterampilan berkelanjutan.
- Peningkatan infrastruktur digital: koneksi internet dan perangkat yang memadai untuk pembelajaran serta pemasaran.
- Akses pembiayaan mikro: skema kredit mikro bersyarat atau kemitraan dengan koperasi lokal untuk modal usaha santri.
- Pendirian unit pemasaran terpadu: platform lokal untuk mengumpulkan dan memasarkan produk pesantren ke pasar regional.
- Pelatihan sensitif gender: memperluas peran santri perempuan dalam unit-unit usaha dan pengambilan keputusan.
Pesantren sebagai Agen Ganda
Pondok Pesantren Bahrul Ulum adalah contoh mikro bagaimana pendidikan agama dan keberlanjutan ekonomi dapat dipadukan. Ia mengingatkan bahwa pesantren modern tak mesti melepaskan tradisi keagamaan; sebaliknya, tradisi itu bisa menjadi modal moral untuk membangun kemandirian ekonomi. Dari halaman asrama ke ladang jagung, dari pengajian ke kelas kewirausahaan—Bahrul Ulum sedang menulis ulang peran pesantren di desa: bukan hanya penjaga ilmu agama, tetapi juga inkubator keterampilan dan harapan ekonomi.
Di ujung hari, yang tampak bukan hanya aktivitas fisik di pesantren—melainkan upaya kolektif untuk menyiapkan generasi yang berpijak pada nilai, sekaligus mampu membaca kebutuhan zaman. Itulah sumbangsih kecil yang, bila didukung berkelanjutan, bisa melahirkan dampak besar bagi Banyuasin. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








