DEAL NASIONAL | Jakarta — Di sela sorotan kebijakan nasional dan agenda ekonomi kreatif, suara para perajin tradisional bergema nyata saat Rakernas Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) 2025 digelar. Tema “Mengikat Tradisi Menenun Harapan” memberi ruang penting agar aspirasi pengrajin tak sekadar bisu dalam forum besar, melainkan menjadi bahan kajian konkret bagi kebijakan pusat maupun daerah. Menurut Selvi, “hubungan dengan desainer, pelaku pasar, dan lembaga keuangan harus diarahkan agar perajin kecil di daerah bisa berkembang lebih” — pernyataan yang mengisyaratkan betapa vital dukungan lintas sektor untuk masyarakat pengrajin.
Berikut liputan mendalam dengan beberapa sudut pandang dan harapan dari para pengrajin daerah, serta tantangan yang mesti dihadapi agar tradisi tak tersingkir oleh arus modernisasi.
Contents
Melalui Rakernas: Memosisikan Suara Perajin sebagai Titik Mulai Kebijakan
Rakernas Dekranas 2025 berlangsung di Jakarta, dihadiri oleh pengurus Dekranasda dari seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Dalam sambutannya, Ketua Umum Dekranas, Selvi Gibran Rakabuming, menekankan betapa krusial sinergi antara pusat dan daerah agar potensi kerajinan lokal dapat berkembang optimal. Selvi juga mengingatkan bahwa setiap daerah punya kekayaan warisan budaya dan tradisi unik — modal besar yang tidak dimiliki semua negara — yang dapat menjadi daya saing bila dikemas dengan baik.
Namun, deklarasi di forum pusat tidak cukup. Oleh karena itu, tema “Mengikat Tradisi Menenun Harapan” diangkat supaya pengrajin — khususnya tenun — dapat menyampaikan kondisi riil: dari akses ke modal, koneksi ke pasar, hingga transformasi digital dalam pemasaran. Seperti disampaikan di laman Komdigi, “hubungan dengan desainer, pelaku pasar, dan lembaga keuangan harus diarahkan agar perajin kecil di daerah bisa berkembang lebih.”
Harapan dan Realitas dari Pelaku Kerajinan Daerah
Sinergi Pusat-Daerah sebagai Kunci Utama
Para pengurus Dekranasda dari berbagai wilayah menyuarakan bahwa sinergi bukan hanya kata retorik. Wakil Ketua Dekranasda Kota Padang, Sri Hayati Maigus Nasir, menyerukan “perlu sinergi banyak pihak, seperti dari anggota legislatif, perumda, perusahaan swasta dan seluruh elemen lainnya agar perajin semakin berkembang pesat.” Demikian pula, Ketua Dekranasda Kabupaten Kampar, Ny. T. Nurheryani Ahmad Yuzar, menyatakan tantangan pengrajin di daerah agar mampu menembus pasar nasional dan internasional harus jadi perhatian serius.
Dari Kutai Timur, Ny. Siti Robiah Ardiansyah memanfaatkan forum Rakernas ini untuk memperkenalkan potensi kerajinan lokal seperti tenun dan batik serta mengajak jejaring agar produk-produk daerah semakin dikenal secara global.
Digitalisasi dan Inovasi Produk: Jalan Keluar Zaman Kini
Di tengah persaingan yang kian ketat, digitalisasi menjadi tema yang tak bisa diabaikan. Gubernur Sumatera Selatan (Feby Deru) menyebut bahwa Rakernas harus melahirkan kebijakan konkret agar UMKM kerajinan di Sumsel dapat “melek digital”, memasarkan produknya lewat platform daring dan media sosial. Ia juga mendorong kombinasi inovasi desain dan identitas budaya agar produk tetap relevan namun tak kehilangan akar lokal.
Agenda Inti: Program Kerja Dekranas 2025–2029 dan Penganugerahan Dekranas Award
Rakernas 2025 bukan sekadar ajang seremonial. Agenda inti meliputi:
- Pemaparan Rencana Kerja Dekranas periode 2025–2029 oleh Sekretaris Jenderal Reni Yanita;
- Diskusi panel strategis bersama pejabat Kementerian Dalam Negeri terkait pengelolaan anggaran daerah dan optimalisasi peran Dekranasda dalam kebijakan pembangunan daerah;
- Penyerahan Dekranas Award kepada perajin daerah berprestasi di delapan kategori;
- Peragaan wastra daerah sebagai bentuk promosi budaya dan identitas lokal di panggung nasional.
Dekranas Award menjadi simbol apresiasi sekaligus tolok ukur kualitas kerajinan, yang diharapkan bisa mendorong daya saing dan reputasi produk daerah.
Tantangan Terbesar: Modal, Distribusi, dan Keberlanjutan Tradisi
Meski gairah tinggi, tantangan nyata bagi para perajin tidak ringan:
- Keterbatasan akses modal dan lembaga keuangan — Perajin di banyak daerah masih mengalami kesulitan mengakses kredit atau pembiayaan mikro yang tepat.
- Hambatan distribusi dan pemasaran — Produk unggul pun dapat terkungkung jika jalur distribusinya lemah.
- Pengelolaan kualitas dan desain — Untuk tetap kompetitif, produk harus memenuhi standar estetika, kemasan, dan keunikan.
- Ancaman kehilangan generasi penerus — Tradisi menenun berisiko tergerus jika generasi muda tak tertarik meneruskan warisan budaya ini.
Untuk itu, rakernas bukan sekadar forum dialog, melainkan momentum untuk merumuskan strategi konkret agar tradisi tak hanya dikenang, melainkan hidup dalam peredaran pasar masa kini.
Penutup
“Menjaga tradisi sambil menjawab tantangan zaman” bisa jadi ringkasan dari harapan para perajin yang hadir di Rakernas Dekranas 2025. Tema Mengikat Tradisi, Menenun Harapan tidak sekadar ungkapan puitis, melainkan panggilan aksi agar suara perajin menjadi bagian integral dari kebijakan nasional. Jika sinergi, digitalisasi, dan dukungan nyata dijalankan, benang-benang kreatif pengrajin nusantara bisa makin kuat menjalin masa depan budaya dan ekonomi Indonesia.








