Kepiting Merah Pulau Leebong, Harta Karun Laut Belitung yang Terlupakan

DEAL RILEKS | Di balik pasir putih dan laut jernih Pulau Leebong, Belitung, tersimpan kekayaan alam yang jarang diketahui publik: kepiting merah (Scylla spp), sejenis kepiting bakau berwarna merah keemasan yang menjadi incaran para pencinta kuliner laut. Tak hanya menggugah selera, keberadaan kepiting merah di kawasan ini menyimpan cerita tentang potensi ekonomi, ekosistem yang rapuh, dan harapan baru bagi pengembangan pariwisata lokal.

Dari Rawa Mangrove ke Meja Makan

Kepiting merah Leebong hidup di kawasan mangrove alami yang mengelilingi pulau. Tidak seperti kepiting bakau biasa, jenis ini memiliki warna lebih cerah, daging lebih padat, dan aroma laut khas. Warga setempat menyebutnya “ketam batu merah” dan biasa ditangkap secara tradisional saat air surut.

“Dagingnya manis dan kuat, beda dengan kepiting biasa. Banyak wisatawan mancanegara cari ketam ini kalau lagi mampir ke Leebong,” — Pak Ramli, nelayan lokal

Kuliner Laut Langka dan Eksklusif

Permintaan terhadap kepiting merah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama dari restoran laut eksklusif di Jakarta, Singapura, hingga Hong Kong. Di pasaran, satu ekor kepiting merah dewasa bisa mencapai harga Rp250.000–Rp400.000 tergantung berat dan musim.

Beberapa resort di Leebong menyajikan menu spesial seperti kepiting merah saus lada hitam, sup kepiting merah jahe, dan kepiting bakar kelapa—semuanya segar langsung dari laut sekitar.

“Kepiting merah ini jadi menu andalan wisata gastronomi kami. Tamu-tamu datang bukan hanya untuk pemandangan, tapi juga untuk cita rasa laut yang otentik,” — Maya Rasyid, manajer eco-resort Leebong

Ekosistem Rawan, Perlu Perlindungan

Habitat kepiting merah menghadapi tekanan dari perubahan garis pantai, alih fungsi lahan mangrove, dan perburuan berlebihan. Tanpa regulasi, populasi spesies ini terancam habis dalam 5–10 tahun ke depan.

“Jika tidak dikendalikan, populasi kepiting merah bisa habis,” — Dr. Andini Saraswati, peneliti kelautan LIPI

Pariwisata Berbasis Ekologi

Pemerintah Belitung mulai mengembangkan ekowisata kepiting merah. Wisatawan diajak mengenal habitat alami, belajar menangkap secara tradisional, lalu menikmati hasil tangkapan dalam konsep from sea to table.

Program kolaboratif resort, LSM, dan masyarakat adat juga sedang digagas untuk membudidayakan kepiting merah secara semi-alami, menciptakan model ekonomi biru berkelanjutan.

Kepiting merah Pulau Leebong bukan sekadar hasil laut, melainkan simbol kekayaan alam, warisan kearifan lokal, dan peluang besar yang menunggu dikelola secara bijak. (ath)

Related posts