Contents
Tjong A Fie: Dari Perantau ke Tokoh Multikultural
Lahir di Guangdong, Tiongkok pada 1860, Tjong A Fie merantau ke Hindia Belanda dan membangun kerajaan bisnisnya dari nol. Ia menjabat sebagai Majoor der Chineezen dan dikenal dekat dengan Kesultanan Deli serta kolonial Belanda.
Ia membangun rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah lintas agama sebagai bentuk derma sosial dan nilai kemanusiaan yang melampaui sekat etnis.
Arsitektur: Simfoni Tiga Budaya
Rumah seluas 8.000 m² ini memadukan gaya Tionghoa, Melayu, dan Eropa kolonial. Gerbang bergaya Hokkien, jendela kayu ala Melayu, serta pilar-pilar khas Eropa berdiri harmonis. Denah rumah mengelilingi halaman terbuka sesuai prinsip feng-shui, dengan langit-langit tinggi dan ubin Venesia yang masih asli.
Koleksi Otentik dan Suasana Masa Lalu
Sekitar 90% isi rumah adalah barang peninggalan asli: dari guci keramik, piano antik, porselen Tionghoa, hingga surat bisnis dan dokumentasi keluarga. Beberapa ruangan privat seperti kamar tidur Tjong A Fie dan altar sembahyang dijaga eksklusif sebagai bentuk penghormatan budaya.
Simbol Kehidupan Multikultural dan Toleransi
Tjong A Fie membiayai pembangunan Masjid Raya Al-Mashun, Masjid Gang Bengkok, serta kelenteng dan sekolah umum. Ia juga menolak sistem kerja paksa di perkebunannya. Sosoknya dikenal sebagai pelopor pluralisme dan keadilan sosial pada zamannya.
Wisata Sejarah dan Edukasi Kota Medan
Rumah ini buka untuk umum setiap hari pukul 09.00–17.00 WIB, dengan tiket Rp 35.000. Wisatawan bisa mengikuti tur berpemandu berbahasa Indonesia dan Inggris. Tempat ini masuk Top 10 Landmark Indonesia versi TripAdvisor sejak 2014.
Upaya Konservasi dan Dukungan Internasional
Rumah ini menerima bantuan dari Ambassador’s Fund for Cultural Preservation (AFCP) AS untuk perbaikan atap dan pelestarian struktur. Tujuannya menjaga orisinalitas dan menjadikannya warisan yang tetap hidup di masa depan.
Kesimpulan: Ikon Sejarah yang Hidup
Lebih dari sekadar rumah tua, Rumah Tjong A Fie adalah simbol keberagaman, persatuan, dan kemanusiaan. Ia mengajarkan bahwa harmoni dapat terwujud melalui kerja keras, keberanian, dan ketulusan lintas budaya.
“Setiap lorongnya memancarkan kisah tentang semangat, kebersamaan, dan warisan yang patut dijaga.”








