Visi Prabowo di Panggung Global
Sejak kampanye pemilu, Prabowo menekankan pentingnya Indonesia menjadi “kekuatan penyeimbang” di tengah rivalitas Barat dan Timur. Dalam beberapa pidato awal masa jabatannya, ia menyuarakan perlunya keterlibatan aktif dalam aliansi ekonomi baru yang lebih merepresentasikan kepentingan negara berkembang.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus menjadi bagian dari pengambil keputusan global, dan BRICS adalah salah satu forum kunci untuk itu,” ujar Prabowo dalam Forum Ekonomi Global ASEAN-BRICS di Jakarta, Juni lalu.
Brasil sebagai Mitra Strategis
Brasil dan Indonesia memiliki banyak kesamaan: luas wilayah, populasi besar, kekayaan sumber daya alam, serta posisi geopolitik strategis. Namun selama ini hubungan kedua negara cenderung bersifat simbolis. Melalui BRICS, Prabowo ingin membawa hubungan tersebut ke tingkat yang lebih konkret, terutama di bidang:
- Pangan dan teknologi pertanian: Brasil dikenal sebagai eksportir utama kedelai dan daging sapi dengan sistem agroteknologi canggih.
- Energi terbarukan: termasuk bioenergi dan etanol, di mana Brasil adalah pemimpin global.
- Industri pertahanan: Indonesia tertarik pada sistem pesawat tempur ringan buatan Brasil seperti Embraer A-29 Super Tucano.
Dalam pertemuan bilateral di sela-sela KTT BRICS+ di Rio de Janeiro, Presiden Prabowo dan Presiden Lula sepakat membentuk Forum Kemitraan Strategis Brasil-Indonesia (FSBI) untuk memfasilitasi kerja sama di bidang-bidang tersebut.
Peluang, Tantangan, dan Implikasi Global
Masuknya Indonesia sebagai anggota penuh BRICS masih dalam tahap penjajakan. Namun sinyal dukungan kuat datang dari Brasil dan India. Tantangan utama bagi Indonesia adalah menjaga keseimbangan dalam diplomasi, khususnya menjaga hubungan baik dengan negara-negara G7 dan Amerika Serikat tanpa memperlihatkan keberpihakan.
Di sisi domestik, Prabowo perlu meyakinkan publik bahwa keterlibatan dalam BRICS bukanlah upaya untuk bergabung dalam blok ideologis, melainkan strategi memperluas jejaring kerja sama global untuk kepentingan nasional.
Kerja sama Indonesia dan Brasil berpotensi menjadi model diplomasi Selatan-Selatan yang transformatif. Jika berhasil, kemitraan ini akan memperkuat posisi kedua negara dalam mendesain ulang arsitektur ekonomi global yang lebih adil dan inklusif.
Dengan arah kebijakan luar negeri yang lebih asertif, Indonesia di bawah Prabowo menunjukkan sinyal kuat sebagai jembatan antarblok dunia. Dan dalam hal ini, Brasil tampil sebagai mitra strategis yang sejalan dalam visi dan kepentingan global Selatan.
(ath)









