DEAL FOKUS | Di tengah hiruk-pikuk perkembangan pesat Chongqing—salah satu kota metropolitan terbesar di Tiongkok—tersembunyi sebuah permata sejarah yang menjadi saksi bisu pergolakan zaman: Kota Tua Shibati. Namanya berarti “Delapan Belas Anak Tangga”, merujuk pada jalur menurun curam yang menghubungkan dataran tinggi kota ke tepian sungai. Tempat ini dulunya adalah urat nadi perdagangan dan kehidupan masyarakat urban klasik Chongqing.
Kini, Shibati bukan sekadar lokasi geografis—ia adalah narasi hidup tentang transisi antara masa lalu dan masa kini. Eksplorasi kawasan ini menjadi perjalanan menyeluruh ke dalam arsitektur tradisional, gaya hidup rakyat jelata masa lalu, hingga dinamika sosial di masa peralihan Tiongkok modern.
Contents
Jejak Sejarah dan Budaya yang Melekat
Kota Tua Shibati berkembang pada akhir Dinasti Qing dan mencapai puncaknya pada awal abad ke-20. Deretan rumah panggung dari kayu, gang-gang sempit berundak, dan pasar rakyat yang dulu ramai menjadikan tempat ini pusat kehidupan komunitas. Banyak bangunan di Shibati dulunya adalah tempat tinggal para pedagang, rumah teh, dan toko obat tradisional Tiongkok.
Namun, Shibati juga menyimpan luka sejarah. Ketika Perang Dunia II melanda, Chongqing menjadi ibu kota sementara Tiongkok. Daerah ini kerap menjadi sasaran bom Jepang. Banyak penduduk Shibati yang menjadi korban, dan kota ini tak pernah benar-benar pulih sejak saat itu.
Antara Pelestarian dan Modernisasi
Selama beberapa dekade terakhir, tekanan urbanisasi di Chongqing membuat Shibati terancam menghilang. Banyak bangunan tua dihancurkan untuk pembangunan gedung tinggi dan jalan raya. Tapi gelombang nostalgia dan kesadaran akan pentingnya warisan budaya memunculkan proyek rekonstruksi besar yang kontroversial.
Pemerintah setempat bekerja sama dengan pengembang swasta untuk merestorasi dan merevitalisasi Shibati menjadi kawasan wisata budaya. Beberapa bagian dibangun ulang dengan gaya arsitektur tradisional, namun dibalut sentuhan modern: kafe trendi, galeri seni, hingga pertunjukan budaya interaktif.
“Kami ingin mempertahankan jiwa Shibati, tetapi juga menjadikannya relevan bagi generasi muda,” kata Liu Jian, arsitek proyek restorasi ini. “Itu bukan tugas mudah, karena yang kita pertahankan bukan hanya bangunan, tapi juga kenangan kolektif masyarakat Chongqing.”
Cerita Rakyat, Aroma Dapur, dan Langkah Kaki Wisatawan
Kini, Shibati kembali ramai. Bukan lagi dengan pedagang keliling, tapi dengan para wisatawan lokal dan mancanegara. Di sepanjang gang-gangnya, aroma makanan khas Chongqing seperti hotpot, xiaomian (mi pedas), dan mantou kukus menguar dari warung-warung tradisional yang hidup kembali. Di sela dinding batu tua, seniman jalanan memainkan erhu dan menyanyikan lagu-lagu rakyat yang nyaris terlupakan.
Tak sedikit pula warga lansia yang kembali ke Shibati hanya untuk mengenang masa muda. Seorang nenek bernama Zhang Mei, 78 tahun, berkata, “Saya lahir di sini. Dulu jalan ini becek, gelap, tapi penuh tawa. Sekarang lebih bersih dan terang, tapi rasanya seperti berjalan di antara bayangan masa lalu.”
Refleksi atas Identitas Urban Chongqing
Eksplorasi Kota Shibati adalah refleksi lebih luas tentang identitas Chongqing: kota yang berdiri di antara gunung dan sungai, masa lalu dan masa depan, tradisi dan inovasi. Kota ini, seperti Shibati, terus menegosiasikan antara mempertahankan akar budaya dan menjawab tantangan modernisasi.
Meski tak semua orang sepakat dengan bentuk restorasi yang dilakukan, satu hal tampak jelas: Shibati telah menjadi cermin bagi kota-kota lain di Tiongkok—bahwa pertumbuhan ekonomi tak harus berarti menghapus sejarah, dan bahwa warisan budaya, bila dirawat dengan bijak, bisa menjadi sumber inspirasi sekaligus identitas. (ath)








