Tradisi Saneh Daging Sapi di Hari Raya Idul Adha

Tradisi Saneh Daging Sapi di Hari Raya Idul Adha
Tradisi Saneh Daging Sapi di Hari Raya Idul Adha

DEAL RILEKS | Suara takbir menggema dari surau-surau kampung, mengiringi detik-detik penyembelihan hewan kurban. Di tengah gegap gempita Hari Raya Idul Adha, sebuah tradisi lama tetap hidup dan mengakar kuat di masyarakat: saneh daging sapi. Tradisi ini bukan sekadar pembagian daging, melainkan simbol kuat solidaritas, gotong royong, dan kearifan lokal yang bertahan di tengah modernisasi.

Di pelosok-pelosok desa, terutama di wilayah Sumatera Barat, sebagian Jawa, dan beberapa daerah lain di Indonesia, tradisi saneh atau sanehan dilakukan dengan cara membagikan daging sapi kepada para tetangga, sanak keluarga, hingga warga kurang mampu. Berbeda dengan pembagian daging kurban yang bersifat formal dan terstruktur lewat panitia masjid, saneh dilakukan atas inisiatif pribadi atau keluarga, seringkali dari mereka yang ikut berkurban atau yang memiliki kelebihan rezeki.

Read More

Menurut Bu Nur Aisyah (54), warga Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, tradisi saneh telah dilakukannya sejak kecil. “Orang tua kami dulu selalu mengajarkan, kalau dapat daging kurban, itu bukan untuk kita habiskan sendiri. Kita bagi juga ke tetangga, terutama yang tidak kebagian,” tuturnya dengan mata berbinar.

Dalam praktiknya, satu keluarga bisa membungkus potongan-potongan daging sapi ke dalam plastik kecil, lalu mengantarkannya langsung ke rumah-rumah. Tidak jarang pula tradisi ini disertai dengan kunjungan silaturahmi, berbincang ringan, hingga saling bertukar hidangan khas Idul Adha seperti rendang, gulai, atau sate.

Dr. Hasanuddin, antropolog dari Universitas Andalas, menjelaskan bahwa saneh bukan sekadar bentuk kemurahan hati. “Ini adalah bentuk dari kapital sosial. Masyarakat menjaga relasi sosial mereka lewat praktik berbagi. Sering kali, siapa yang menyaneh kepada siapa menjadi catatan sosial yang menumbuhkan rasa saling peduli,” jelasnya.

Namun, tradisi ini tidak tanpa tantangan. Di tengah kehidupan modern yang serba praktis, budaya saneh mulai tergerus, terutama di kota-kota besar. Banyak warga yang memilih menerima daging dari panitia kurban tanpa meneruskan tradisi membagikan secara pribadi. Di beberapa tempat, generasi muda bahkan tidak lagi mengenal istilah saneh.

Pemerhati budaya Minangkabau, Yusril Damrah, menilai pentingnya pelestarian tradisi ini. “Kita harus menyadari bahwa tradisi seperti saneh bukan sekadar budaya lokal, tapi bagian dari implementasi nilai Islam itu sendiri: berbagi dan mempererat tali silaturahmi,” katanya.

Sementara itu, di desa-desa, tradisi ini tetap menjadi bagian penting dari perayaan Idul Adha. Ia tidak hanya memperkaya makna kurban, tetapi juga mempererat simpul-simpul sosial yang mungkin kian longgar di zaman modern.

Idul Adha bukan sekadar momen ritual keagamaan, tapi juga refleksi sosial. Lewat tradisi saneh daging sapi, masyarakat memperlihatkan bahwa kurban tidak berhenti di tempat penyembelihan, tetapi terus mengalir melalui tangan-tangan yang peduli dan hati yang bersyukur. Di sanalah makna sejati dari pengorbanan dan kebersamaan itu hidup. (ath)

Related posts