Menelusuri Kerja Sama Pertahanan Indonesia–Prancis

DEAL FOKUS | Saat dinamika geopolitik Indo-Pasifik yang kian kompleks, Indonesia semakin mengintensifkan diplomasi pertahanannya. Salah satu langkah strategis terbaru adalah memperkuat kerja sama pertahanan dengan Prancis, negara Eropa dengan sejarah militer kuat dan ambisi global yang kian nyata di kawasan Asia-Pasifik.

Kesepakatan kerja sama ini mencakup berbagai aspek penting, mulai dari pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), pelatihan militer bersama, hingga transfer teknologi dan pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Dalam kunjungan kenegaraan yang berlangsung pada awal 2025, kedua negara menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) sebagai landasan hukum peningkatan kolaborasi di sektor pertahanan.

Read More

Salah satu fokus utama dari kerja sama ini adalah pengadaan jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation. Indonesia telah menandatangani kontrak pembelian 42 unit jet tempur canggih ini, dengan komitmen transfer teknologi sebagai bagian dari kesepakatan. Selain itu, Indonesia juga menjalin kerja sama pembangunan kapal selam bersama Naval Group, perusahaan pertahanan laut asal Prancis.

“Kerja sama ini bukan hanya soal pembelian alutsista, tetapi lebih pada pembentukan ekosistem industri pertahanan yang mandiri dan berkelanjutan di Indonesia,” ujar Presiden Prabowo Subianto dalam konferensi pers bersama mitranya dari Prancis. Ia menekankan pentingnya peningkatan kapabilitas produksi dalam negeri serta pelatihan personel militer untuk menghadapi tantangan pertahanan yang semakin kompleks.

Dari perspektif Prancis, Indonesia dianggap sebagai mitra strategis di kawasan. “Kami melihat Indonesia sebagai jangkar stabilitas regional dan mitra yang memiliki kesamaan pandangan tentang pentingnya tatanan internasional berbasis aturan,” ungkap Menteri Pertahanan Prancis, Sébastien Lecornu.

Namun, kerja sama ini tidak lepas dari kritik. Beberapa pihak menilai bahwa ketergantungan terhadap pengadaan alutsista dari luar negeri dapat menghambat kemandirian pertahanan nasional. Selain itu, aspek transparansi dan akuntabilitas dalam proses pengadaan juga menjadi sorotan masyarakat sipil dan pengamat militer.

Di sisi lain, pengamat pertahanan dari Lembaga Studi Strategis Indonesia, Dr. Rika Anindya, menilai bahwa kerja sama ini memiliki nilai strategis jangka panjang. “Selama Indonesia mampu mengelola kerja sama ini dengan baik, termasuk mengamankan transfer teknologi dan memperkuat industri pertahanan nasional, maka ini adalah investasi geopolitik dan geostrategis yang sangat penting.”

Kerja sama pertahanan Indonesia–Prancis merefleksikan paradigma baru dalam diplomasi pertahanan Indonesia: dari pembeli menjadi mitra, dari pengguna menjadi pengembang. Di tengah ketegangan geopolitik global dan perlombaan senjata di kawasan, Indonesia menegaskan posisinya sebagai negara berdaulat yang siap menjaga kepentingan nasional melalui kerja sama yang berlandaskan kepentingan bersama dan kemandirian strategis. (ath)

Related posts