Ketika Jeriken Mengantre di Tengah Reruntuhan: Melihat Langkanya BBM di Bengkulu Pascagempa

DEAL EKBIS | Asap tipis mengepul dari dapur darurat yang dibangun dari terpal biru di halaman sekolah yang kini menjadi pos pengungsian. Di sisi lain jalan, barisan jeriken warna-warni berjejer rapi, menanti giliran pengisian BBM. Suasana ini menjadi potret nyata dari krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Bengkulu pascagempa berkekuatan 7,2 skala Richter yang mengguncang wilayah ini tiga hari lalu.

Lebih dari sekadar soal logistik, kelangkaan BBM telah menjadi krisis kemanusiaan kedua setelah gempa itu sendiri. Di tengah pemadaman listrik, terbatasnya akses transportasi, dan kebutuhan pengungsi yang terus meningkat, keberadaan BBM menjadi urat nadi kehidupan.

Read More

 

Rantai Distribusi yang Lumpuh

Salah satu penyebab utama kelangkaan BBM adalah terputusnya jalur distribusi utama dari Pelabuhan Pulau Baai dan jalur darat lintas barat Sumatera. Beberapa ruas jalan tertimbun longsor, jembatan rusak, dan sejumlah SPBU mengalami keretakan struktural yang memaksa mereka menghentikan operasional.

“Truk pengangkut BBM tidak bisa masuk ke beberapa kabupaten seperti Kepahiang, Lebong, dan Seluma. Bahkan di Kota Bengkulu sendiri, suplai menurun drastis karena kerusakan fasilitas distribusi,” jelas Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Bengkulu, Ir. Ahmad Saifullah.

 

Jeriken dan Antrean Mengular

Di tengah kekacauan itu, warga berbondong-bondong membawa jeriken ke SPBU yang masih buka, meski jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Di SPBU Panorama, antrean kendaraan sudah mencapai satu kilometer sejak pagi. Bahkan warga rela menunggu sejak dini hari.

“Saya sudah mengantre sejak jam 3 pagi, tapi baru dapat giliran jam 10. Itu pun hanya boleh beli 5 liter,” ujar Suryadi, tukang ojek yang sehari-hari mengantar bantuan ke lokasi terdampak.

Beberapa pengungsi bahkan menggunakan BBM untuk menyalakan genset demi penerangan dan mengisi daya alat komunikasi. Hal ini memperparah kebutuhan di tengah keterbatasan pasokan.

 

Spekulan Mengintai, Harga BBM Melonjak

Kondisi ini dimanfaatkan oleh sejumlah oknum spekulan. Harga BBM eceran di pasar gelap melonjak hingga Rp 20.000–25.000 per liter, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) resmi. Beberapa warga terpaksa membelinya karena keperluan darurat seperti pengobatan atau evakuasi anggota keluarga.

“Sudah susah, mahal pula. Tapi gimana lagi, anak saya harus dibawa ke rumah sakit,” kata Fitri, warga dari Kecamatan Selebar.

 

 Respons Pemerintah: Belum Maksimal

Pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM dan Pertamina telah mengirimkan tim tanggap darurat. Beberapa mobil tangki BBM portabel dikirim via jalur udara menggunakan pesawat Hercules TNI AU. Namun, jumlahnya belum sebanding dengan kebutuhan harian masyarakat.

“Kami sedang berkoordinasi dengan Basarnas dan BNPB untuk mempercepat pembukaan jalur darat, serta mendirikan SPBU darurat di beberapa titik prioritas,” ujar perwakilan Pertamina wilayah Sumbagsel dalam konferensi pers virtual.

Namun menurut pengamat kebencanaan dari UGM, Dr. Wawan Gunawan, respon logistik energi ini masih tersendat pada tahap perencanaan kontinjensi. “Bencana tidak bisa ditangani hanya dengan respons. Perlu ada sistem distribusi energi darurat yang lebih siap, terutama di daerah rawan bencana seperti Bengkulu.”

 

Harapan dari Udara dan Laut

Salah satu upaya yang mulai diintensifkan adalah pengiriman BBM melalui jalur laut, langsung dari Lampung atau Palembang ke pelabuhan-pelabuhan kecil yang masih bisa diakses kapal kecil. TNI AL turut dikerahkan mengawal pengiriman dan pendistribusian ke titik-titik pengungsian.

Di sisi lain, bantuan dari masyarakat dan lembaga swadaya mulai mengalir, meski jumlahnya belum cukup untuk menopang kebutuhan BBM harian seluruh wilayah terdampak.

 

Energi di Tengah Ketidakpastian

Kelangkaan BBM di Bengkulu adalah gambaran nyata bagaimana energi menjadi kebutuhan vital dalam situasi darurat. Ia bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga soal keselamatan, komunikasi, kesehatan, dan kelangsungan hidup. Ketika jeriken-jeriken mulai kosong dan antrean makin panjang, pertanyaan yang menggantung adalah: seberapa siapkah sistem kita menjamin energi dalam situasi bencana?

Masyarakat Bengkulu kini menatap langit, berharap bantuan segera datang—secepat tangisan pertama saat bumi berguncang. (ath)

Related posts