Jarangnya Kaum Perempuan Terlihat di Ruang Publik Tanah Suci

Seorang perempuan berjalan di sekitar Masjidil Haram
Kehadiran perempuan di ruang publik Mekkah masih dibatasi norma sosial konservatif

DEAL GENDER | Setiap tahunnya, jutaan umat Islam dari seluruh dunia mengalir menuju Mekkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji atau umrah. Dua kota suci ini menjadi pusat spiritual dunia Muslim, tempat berkumpulnya umat dari berbagai ras, negara, dan bahasa. Namun, di tengah keramaian para peziarah, terdapat satu kenyataan yang mencolok namun jarang dibicarakan secara terbuka: minimnya kehadiran perempuan di ruang-ruang publik Tanah Suci, terutama di luar konteks ibadah.

 

Read More

Perempuan Ada, Tapi Tak Terlihat?

Meskipun jutaan jemaah perempuan turut melaksanakan haji dan umrah setiap tahun — dan bahkan mendapat kuota setara dalam pemberangkatan jemaah di banyak negara — keberadaan mereka jarang terlihat dominan di lanskap sosial kota suci. Di pelataran Masjidil Haram dan Nabawi, perempuan memang hadir dan aktif beribadah, namun di luar itu, ruang-ruang seperti toko, restoran, kafe, terminal transportasi, hingga jajaran bisnis lokal didominasi laki-laki.

Di pasar tradisional di kawasan Aziziyah, misalnya, hanya tampak segelintir perempuan lokal yang berjalan terburu-buru, sebagian besar mengenakan niqab hitam pekat. Sisanya — kasir, penjaga toko, petugas keamanan, hingga pelayan hotel — didominasi laki-laki.

“Kami perempuan lebih memilih tinggal di rumah atau di bagian khusus di hotel. Di luar sana, ruangnya masih lebih cocok untuk laki-laki,” ujar Umm Farah, warga lokal Madinah, yang bekerja sebagai pengrajin tas haji rumahan.

 

Faktor Budaya dan Agama: Antara Norma dan Interpretasi

Minimnya kehadiran perempuan di ruang publik Tanah Suci bukan semata karena pelarangan formal, tetapi lebih banyak didorong oleh tradisi sosial, interpretasi agama, dan norma kesopanan yang telah mengakar lama di masyarakat konservatif Hijaz.

Arab Saudi, hingga beberapa tahun terakhir, menganut sistem pemisahan ketat antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Hal ini tampak pada ruang makan yang dipisah, antrean khusus perempuan di masjid, hingga jalur transportasi berbeda. Meskipun reformasi sosial kini mulai membuka ruang lebih inklusif, di kota-kota suci seperti Mekkah dan Madinah, norma konservatif tetap mendominasi.

“Kota suci memiliki aura tersendiri. Di sini, perempuan cenderung menjaga jarak dari aktivitas luar karena ingin menjaga kesakralan dan kesopanan,” ungkap Dr. Aisha Al-Sudairy, pakar sosiologi Islam dari King Abdulaziz University.

 

Dinamika Perubahan dan Perempuan Diaspora

Namun, pemandangan mulai berubah secara perlahan. Di hotel-hotel internasional di Jeddah dan area sekitar Mekkah, mulai terlihat perempuan-perempuan dari diaspora — jemaah dan pekerja migran — yang lebih aktif di ruang publik. Mereka menjadi petugas kebersihan, relawan layanan jemaah, bahkan jurnalis dan fotografer haji.

Kehadiran perempuan asing ini membuka celah baru dalam pemahaman budaya lokal.

“Saya datang dari Indonesia dan merasa aman berjalan sendiri di sekitar hotel. Tapi tetap, banyak area yang saya rasa masih belum ramah perempuan secara sosial,” tutur Rina, seorang jemaah perempuan asal Bandung.

 

Peran Negara dan Upaya Reformasi

Di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Arab Saudi memang tengah menjalankan reformasi besar-besaran dalam bidang sosial dan ekonomi melalui program Vision 2030, termasuk peningkatan partisipasi perempuan dalam sektor publik dan layanan haji.

Kini, beberapa perempuan Saudi telah menjadi petugas keamanan di Masjidil Haram, pemandu haji, bahkan pengemudi taksi khusus perempuan. Namun, perubahan ini berjalan perlahan di kota suci dibanding kota seperti Riyadh atau Jeddah.

“Perubahan sudah dimulai. Tapi di Tanah Suci, segala sesuatu berjalan lebih hati-hati. Ada kesakralan yang membuat setiap langkah reformasi perlu diselaraskan dengan nilai-nilai agama dan budaya,” jelas Prof. Fahd Al-Harbi, peneliti dari Center for Islamic Studies, Madinah.

 

Sunyi yang Penuh Arti

Jarangnya kaum perempuan terlihat di Tanah Suci bukan berarti mereka tak hadir. Mereka ada — dalam ibadah, dalam doa, dalam perjuangan spiritual — namun tetap dibingkai oleh ruang dan norma sosial yang lebih sempit. Namun, perubahan perlahan mulai menggeliat. Di balik sunyi itu, ada suara yang mulai terdengar. Di balik kerudung dan niqab, ada langkah perempuan yang bergerak dengan keyakinan, bahwa kehadiran mereka di Tanah Suci bukan hanya sah, tapi juga penting dan bermakna. (ath)

Related posts