DEAL EKBIS | Di tengah menjulangnya gedung-gedung beton dan menyempitnya ruang hijau, hadir sebuah peluang bisnis yang tak sekadar menyegarkan pandangan, tapi juga menghasilkan cuan: taman buatan. Dari taman mini di kantor startup, rooftop garden di apartemen, hingga taman terapung di kawasan wisata, bisnis pembuatan dan perawatan taman buatan kini menjadi primadona baru di sektor ekonomi kreatif dan properti hijau.
Permintaan taman buatan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung melonjak drastis dalam tiga tahun terakhir. Tak hanya dari pemerintah daerah yang mengejar target Ruang Terbuka Hijau (RTH), tapi juga dari sektor swasta dan rumah tangga kelas menengah ke atas.
“Dulu taman hanya elemen estetika, sekarang jadi kebutuhan. Orang sadar pentingnya ruang hijau untuk kesehatan mental dan nilai properti,” kata M. Darwis, pendiri UrbanGreen, perusahaan rintisan yang khusus menangani desain taman vertikal dan taman interior.
Contents
Skema Bisnis yang Mengakar
Bisnis taman buatan terbagi menjadi beberapa lini utama:
- Desain dan konsultasi lanskap
- Pembangunan taman fisik (hardscape & softscape)
- Penyediaan tanaman hias dan elemen dekoratif
- Perawatan taman dan sistem irigasi otomatis
- Pembuatan taman tematik (Jepang, tropis, zen, taman kering dll)
Menurut data Asosiasi Lanskap Indonesia, potensi pasar bisnis taman buatan di kota besar Indonesia mencapai Rp1,2 triliun per tahun, dengan pertumbuhan 15–20% sejak pandemi. Pandemi menjadi titik balik di mana orang mulai menginginkan kehadiran alam dalam skala privat di rumah maupun kantor.
Dari Hobi ke Skala Industri
Salah satu kisah sukses datang dari Nita Larasati, mantan arsitek yang kini fokus membangun TamanKita Studio di Yogyakarta. Berawal dari hobi merancang taman rumah sendiri, kini ia menangani lebih dari 30 proyek taman buatan per tahun, termasuk taman kering di kafe dan ruang terapi kesehatan.
“Saya belajar bahwa taman yang bagus itu bukan soal luas, tapi soal fungsi dan karakter. Bisa jadi tempat healing, meeting, atau sekadar selfie. Klien saya sekarang bahkan minta taman berkonsep ‘Instagramable dengan efek suara air’,” ujarnya sambil menunjukkan rancangan taman urban 3×3 meter milik klien di Jakarta Selatan.
Taman sebagai Investasi
Tak hanya mempercantik visual, taman buatan juga meningkatkan nilai ekonomi properti. Berdasarkan survei REI (Real Estate Indonesia), rumah dengan taman tertata baik bisa mengalami kenaikan harga jual hingga 10–15%. Restoran dengan taman terbuka cenderung mendapat rating lebih tinggi dan waktu kunjungan pelanggan lebih lama.
Perusahaan besar juga mulai memasukkan taman sebagai bagian dari corporate sustainability. Bank, rumah sakit, hingga pusat perbelanjaan membangun taman buatan sebagai strategi branding sekaligus pemenuhan tanggung jawab sosial lingkungan (CSR).
“Green business bukan hanya soal energi surya, tapi juga soal mengembalikan rasa seimbang ke lingkungan kerja. Taman buatan menjawab kebutuhan itu secara konkret,” kata Ardianto Wibowo, konsultan properti dan tata ruang.
Tantangan dan Solusi
Meski potensial, bisnis taman buatan juga menghadapi kendala:
- Kurangnya SDM terampil dalam lanskap dan perawatan
- Biaya instalasi awal yang tinggi untuk sistem taman vertikal atau rooftop
- Masih rendahnya kesadaran pemilik properti akan nilai fungsional taman
Namun, munculnya startup dan aplikasi seperti GreenFix, RumahTaman, atau VertiGrow mulai menjawab tantangan tersebut dengan layanan on-demand, sistem langganan, dan edukasi daring.
Pemerintah kota juga mulai menggandeng UMKM lanskap untuk pengadaan taman skala kecil, terutama di permukiman padat dan sekolah.
Langkah Hijau ke Depan
Dengan tren gaya hidup sehat, urban wellness, dan keinginan manusia modern untuk “kembali ke alam”, bisnis taman buatan bukan hanya relevan — tapi strategis. Ia merangkul seni, sains, dan keberlanjutan dalam satu ekosistem bisnis yang menyegarkan.
Saat ruang hijau alami makin langka, taman buatan hadir bukan hanya sebagai estetika — tapi sebagai solusi. Di balik pohon plastik dan batu buatan, ada peluang bisnis yang hidup dan berakar kuat dalam kebutuhan masa kini. (ath)






