DEAL FOKUS | Kota Medan, yang selama ini identik dengan keberadaan becak motor sebagai salah satu ikon transportasi, kini mulai menunjukkan perubahan besar. Seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap lingkungan dan upaya pemerintah untuk mengurangi emisi karbon, becak motor perlahan mulai tergantikan oleh bajai listrik yang lebih ramah lingkungan.
Pemerintah Kota Medan bersama Kementerian Perhubungan telah meluncurkan program konversi transportasi berbasis bahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik sejak awal 2024. Program ini melibatkan pemberian subsidi untuk pengemudi becak motor yang ingin beralih ke bajai listrik, serta pembukaan akses kredit dengan bunga rendah.
Wali Kota Medan, Bobby Nasution, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mencapai target net-zero emission pada tahun 2060. “Medan ingin menjadi pelopor di Sumatera Utara dalam penggunaan transportasi publik yang ramah lingkungan. Dengan hadirnya bajai listrik, kita tidak hanya mengurangi polusi udara tetapi juga meningkatkan kenyamanan penumpang,” ujar Bobby.
Contents
Keunggulan Bajai Listrik
Bajai listrik yang mulai beroperasi di Medan memiliki desain modern dan dilengkapi dengan fasilitas seperti sistem pendingin udara, port pengisian daya untuk ponsel, dan kapasitas penumpang yang lebih besar dibanding becak motor. Selain itu, biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak menjadi daya tarik bagi para pengemudi.
Rahmat, seorang pengemudi becak motor yang baru saja beralih ke bajai listrik, mengaku puas dengan perubahan ini. “Awalnya saya ragu, tapi setelah mencoba, ternyata biaya perawatan lebih murah, dan penumpang juga lebih suka karena lebih nyaman dan tidak berisik,” ujarnya.
Becak Motor: Ikon yang Mulai Memudar
Meski bajai listrik membawa angin segar, banyak warga Medan yang merasa nostalgia dengan keberadaan becak motor yang sudah menjadi bagian dari identitas kota selama puluhan tahun. Bagi sebagian pengemudi, transisi ini bukan tanpa tantangan. Mereka harus menghadapi biaya awal yang cukup besar untuk membeli bajai listrik, meskipun sudah ada subsidi pemerintah.
Sulaiman, seorang pengemudi becak motor, mengungkapkan kekhawatirannya. “Becak motor ini sudah saya pakai lebih dari 15 tahun. Kalau harus beralih, saya khawatir tidak bisa mencicil kendaraan baru,” katanya.
Upaya Mendukung Pengemudi dalam Masa Transisi
Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, pemerintah menggandeng lembaga perbankan dan perusahaan leasing untuk menyediakan skema pembiayaan yang fleksibel. Selain itu, pelatihan khusus juga diberikan kepada pengemudi untuk mengoperasikan dan merawat bajai listrik.
Pengamat hukum dan infrastruktur Kota Medan, Alim Thonthowi, mengatakan bahwa dukungan ini bertujuan untuk memastikan tidak ada pengemudi yang tertinggal dalam proses transisi. “Kami ingin semua pengemudi becak motor dapat merasakan manfaat dari teknologi baru ini tanpa kehilangan penghasilan mereka,” jelas Alim.
Dampak Positif Terhadap Lingkungan
Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan, penggunaan bajai listrik telah berhasil menurunkan emisi karbon dari sektor transportasi sebesar 12% dalam enam bulan pertama program ini berjalan. Selain itu, tingkat kebisingan di jalan-jalan utama kota juga mengalami penurunan signifikan.
Namun, program ini tidak lepas dari tantangan. Infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian daya masih terbatas, terutama di daerah pinggiran kota. Selain itu, diperlukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya transportasi ramah lingkungan.
Pemerintah Kota Medan berharap bahwa dengan keberhasilan program ini, Medan dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia. Transformasi ini tidak hanya menjadi simbol modernisasi tetapi juga langkah nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Bagi warga Medan, peralihan dari becak motor ke bajai listrik mungkin terasa seperti mengucapkan selamat tinggal pada bagian dari sejarah. Namun, di balik itu, kota ini sedang melangkah menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. (ath)






