DEAL NASIONAL | Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru-baru ini meresmikan Base Transceiver Station (BTS) di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, sebagai bagian dari proyek monumental “tol langit” senilai Rp28 triliun. Proyek ini meninggalkan warisan berupa 630 BTS di Papua dan menghadapi tantangan keamanan yang membuat Jokowi meminta dukungan TNI dan Polri.
Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) mempercepat pembangunan BTS 4G pada tahun 2023, terutama di Provinsi Papua. Namun, proyek ini tidak tanpa hambatan, seperti perusakan oleh kelompok anti-pemerintah RI di Papua.
Direktur Utama Bakti, Fadhilah Mathar, menyampaikan bahwa sejumlah BTS yang sudah dibangun setengah jadi harus diganti karena perusakan. Proyek ini juga menghadapi tantangan biaya yang lebih tinggi, terutama di daerah pedalaman seperti Papua.
Kisah Daerah Terpencil dan Pejuang BTS: Saksi Kunci Penyanderaan di Papua
Benyamin Sembiring, Government & Public Relation PT Infrastruktur Bisnis Sejahtera (IBS), menjadi saksi kunci proses pembangunan BTS di Papua. Ben mengalami penyanderaan oleh pihak yang menentang pemerintah RI ketika hendak meninjau lokasi penempatan BTS.
Ben mengungkapkan insiden tersebut, di mana dia dan timnya disandera oleh kelompok bersenjata yang menentang pembangunan BTS. Meskipun masyarakat setempat setuju dengan proyek ini, ketakutan terhadap kelompok anti-Indonesia mengalahkan keinginan mereka akan akses internet.
Dalam peristiwa penyanderaan, Ben mengalami serangan dan diharuskan mengumpulkan uang sogokan sebesar Rp500 juta. Dengan telepon satelit, Ben berhasil memanggil pesawat penyelamat yang membawanya keluar dari situasi tersebut.
Meskipun mengalami luka serius dan mendapatkan perawatan intensif di Jayapura, Ben memutuskan untuk tidak ikut campur dalam penyelamatan teman-temannya. Teman-temannya akhirnya dibebaskan beberapa hari setelah kejadian.(WAM)






