DEAL FOKUS | Fenomena banyaknya tenaga kerja Indonesia (TKI) yang mengadu nasibnya di luar negeri menjadi permasalahan pemerintah Indonesia bidang tenaga kerja, setiap tahun jumlah TKI semakin membludak, hal itu disebabkan peluang kerja di tanah air minim.
Selain gaji dan fasilitas besar, jalan-jalan mencari pengalaman menjadi salah satu alasan warga Negara Indonesia menjadi TKI di luar negeri.
“Enak di Taiwan, Korea, Hongkong dan Kanada,” kata Yan Tolib, mantan TKI di Taiwan beberapa tahun silam.
Yan menegaskan, bekerja di luar negeri lebih enak dibandingkan di Indonesia, gaji besar dan fasilitas bagus adalah alasan mereka ke sana.
“Gaji sebenarnya besar karena kurs mata uang rupiah kecil, dibandingkan mata uang Negara luar sana, kemudian yang membuat nyaman adalah fasilitas dan suasana kerja, seperti ada asuransi, bonus, tunjangan dan tentunya kalau bekerja part time kita bisa cari sampingan menjadi youtuber, pemandu wisata atau jastip belanja,” terang mantan karyawan di salah satu perusahaan garmen di Taiwan itu.
Berbeda apa yang disampaikan Hendri, karyawan perkebunan di Kanada, di sana ia bekerja memetik buah anggur dan strawberry. Buah itu kemudian dipacking dan dijual ke Negara lainnya.
“Jangan anda bayangkan memetik buah di sini seperti Indonesia, perlengkapan pertanian di sini baik, kami disiapkan pakaian dan alat memetik, semua menggunakan mesin sehingga badan tidak kotor, menggunakan sepatu, sarung tangan, helm pengaman, masker dan kacamata anti radiasi, semuanya bagus,” terangnya.
Semua alasan tersebut, mempengaruhi warga Negara Indonesia menjadi TKI di luar negeri, bahkan sekarang permintaan menjadi TKI membludak, tampak dari permohonan kartu kuning dan permohonan visa di beberapa kedutaan besar Negara luar negeri.
“Kebanyakan permohonan ke Taiwan, Korea, Hongkong dan Kanada,” kata Ram Soraya, pegawai di kedutaan besar Kanada.
Permohonan visa ke Kanada lebih banyak tahun ini, separuh dari visa itu adalah alasan bekerja di sana, memang Kanada sangat membutuhkan imigran dan tenaga kerja berbasis keahlian dan profesi.
Oleh sebab itulah, beberapa sektor kerja di Kanada masih membutuhkan tenaga kerja luar negeri, kebanyakan dari Cina, India dan Indonesia.
Keluhan peluang kerja minim dan tidak menjanjikan, menjadi alasan Badrul Arifin harus bekerja di luar negeri. Mantan manajer salah satu perusahaan BUMN tersebut, sudah kemana-mana mengajukan permohonan kerja, tapi tidak menjanjikan, paling kecil menjadi manajer atau supervisor bidang pemasaran.
“Susah sekarang, untuk menduduki jabatan susah, apalagi di perusahaan swasta, harus sikut sana sini, itu tidak mungkin, ini jalan terakhir menjadi TKI,” jelasnya.
Menanggapi fenomena itu, pakar manajemen SDM dan Public Relation Prof. Renald Kasali menegaskan, pemerintah serba salah melihat perkembangan zaman sekarang, pasca covid-19 peluang kerja menjadi sulit, perusahaan banyak memberhentikan karyawan yang berdampak pada mereka harus menyambung hidup dengan berbagai macam cara, salah satunya menjadi TKI.
Menurut Prof. Renald, tidak banyak yang mampu dan mau menjadi pengusaha, bisa karena tidak ada bakat dan kedua tidak ada modal.
Walaupun kata Prof. Renald, jika dijalani perlahan-lahan, menjadi pengusaha juga akan mampu menopang kehidupan.
“Asal mau sabar dan bekerja keras, tapi tidak semua siap,” tegasnya. (ath)








