DEAL FOKUS | Anak generasi milenial akhir dan generasi Y dan Z banyak yang melupakan sejarah, generasi Y mereka yang lahir di tahun 1990an dan generasi Z ialah mereka yang lahir di tahun 2000an sampai sekarang.
Pernyataan itu pernah ditulis oleh Prof. Anhar Gong Gong pakar sejarah di Indonesia, beliau merisaukan sejarah akan hilang jika tidak ada yang mengingatnya.
Kekhawatiran sang professor bukan tanpa sebab, banyak buku bergenre sejarah kurang diminati pembaca di pasaran, termasuk kurang laku di toko besar atau toko buku berbasis online (market place).
“Mereka lebih menyukai novel, buku pengembangan diri dan resep masak,” kata Catur Sungkono, pendiri penerbit halaman moeka publishing kepada www.deal-channel.com pekan lalu.
Penyebabnya, pelajaran sejarah tidak ada lagi di sekolah, kalaupun masih bertahan durasi pelajaran tersebut tidak sampai satu jam.
“Apalah yang bisa diterima siswa kurang dari satu jam,” jelas Isya Thonthowi, manajer humas penerbit Alwas Mart Media saat dikonfirmasi.
Menurutnya, pelajaran sejarah yang minim bahkan tidak ada, kemudian anak-anak sekarang juga lebih suka mendatangi mall daripada museum, mereka lebih suka main game daripada membaca buku-buku sejarah, bahkan mereka pun bosan menonton film berbasis sejarah.
“Wajar saja jika mereka tidak mengerti siapa Buya Hamka, siapa pahlawan revolusi, karena mereka tidak diajarkan,” tegas alumnus University of South Carolina Amerika Serikat itu menambahkan.
Solusinya menurut analis hukum dan media dari Universitas Battuta Medan Alim Thonthowi, buku sejarah dan sejarah itu sendiri harus ditransformasikan secara digital agar menarik minat generasi Y dan Z tersebut.
“Ya, harus dibuatkan visualisasi, dibuat digital, bisa cerita digital ataupun film pendek agar menari, jika perlu ada game sejarah,” tegas pendiri pusat pelatihan SDM Alwas Institute Indonesia Medan itu kepada pers.
Selain hal tersebut, Alim juga menyarankan agar generasi Y dan Z sering-sering diajak berkunjung ke museum dan mengenalkan mereka arti sejarah yang benar. (jm)








